Saran Saran Tambahan Memupuk Iklim Belajar Kreatif

Standard

Saran saran tambahan memupuk iklim belajar kreatif

Belajar merupakan suatu usaha sadar individu untuk mencapai tujuan peningkatan diri atau perubahan diri melalui latihan-latihan dan pengulangan-pengulangan serta perubahan yang terjadi bukan karena peristiwa kebetulan. Namun para ahli psikologi mordent berpendapat sama bahwa dalam belajar, ada perubahan kearah proses yang lebih baik , dari yang tidak dapat menjadi dapat dan dari tidak tahu menjadi tahu . lebih lanjut , perubahan tersebut relative permanen, dalam arti tidak mudah hilang , dan terjadi bukan semata-mata karena peristiwa kebetulan.

Kreatif merupakan salah satu kemampuan yang hendak ditingkatkan dalam kebanyakan program keberkebakatan dan perlu dipupuk iklim kelas yang menghargai dan memupuk semua kretifitas dalam semua segi.

Kondisi lingkungan disekitar anak sangat berpengaruh besar dalam menumbuh kembangkan kreativitas. Lingkungan yang sempit, pengap dan menjemukan akan terasa muram, tidak bersemangat dalam mengumpulkan ide cemerlang. Kreativitas dengan sendirinya akan mati dan tidak berkembang dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung.

Cherry (1976) dan Ayan (2002) mengemukakan beberapa kondisi lingkungan yang harus diciptakan untuk menumbuhkan jiwa kreatif, sebagai berikut :

  1. Pencahayaan

Cahaya merupakan salah satu sumber energi kreatif paling ampuh, bahkan cahaya matahari yang terang langsung memiliki kaitan biologis dengan tubuh dan pikiran. Kaitan antara cahaya dan energi lahir dan batin ditimbulkan oleh pengaruh cahaya terhadap kelenjar pineal, penghasil hormon malatonin. Melatonin mempengaruhi kelenjar hipotalamus, yang merupakan pengatur irama siang dan malam biologis tubuh. Karena sinar matahari menghambat aliran melatonin, yang dicapai titik tertinggi dalam gelap, para peneliti yakin bahwa melatonin berperan tinggi dalam mengatur kesiangaan san kemampuan kerja fisik dan mental, sebagaimana unsur kimiawi tubuh lain yang dipengaruhi sinar matahari.

  1. Sentuhan warna

Warna memiliki aspek tertentu terhadap lingkungan, dapat membuat kita merasa penuh energi. Sementara warna lain punya efek menenangkan. Ada beberapa cara dasar penggunaan warna untuk meciptakan lingkungan kreatif, yaitu

  1. Warnailah sebagian besar ruang kerja untuk mendapatkan perasaan yang anda inginkan
  2. Buatlah variasi warna sesuatu dengan suasana hati dan kebutuhan yang berbeda
  3. Banyaknya warna merangsang berbagai pikiran dan perasaan.

  1. Seni dalam lingkungan

Istilah seni dalam lingkungan berarti segala sesuatu di dinding, rak dan semua permukaan sekitar ruangan. Ini meliputi apa saja dimulai dari poster, hiasang dinding dan foto berbingkai, hingga hiasan kecil, ukiran dan benda seni. Seni bernuansa lingkungan tidak harus sempurna atau abadi, namun ia dapat diubah dan diganti karena “keanekaragaman adalah bumbu kehidupan”.

  1. Bunyi dan musik

Sebagian orang lebih senang bekerja dalam keheningan, walaupun ada pula orang yang lebih suka bekerja dengan diiringi musik. Musik dan bunyi memiliki 2 fungsi, yaitu :

  1. Jenis musik tertentu dapat meningkatkan fungsi otak dan membantu kecepatan belajar dan daya ingat
  2. Mempengaruhi kecepatan belajar dan daya ingat

  1. Aroma

Menurut berbagai sumber bebauan atau aroma diketahui secara langsung merangsang bagian otak – sistem limbik –yang bekerja atas emosi dan ingatan primitif. Akibatnya satu jenis bau mampu mengeruk segunung emosi dan menggugah ingatan lama.

  1. Sentuhan

Menurut beberapa kiat yang dapat mempertimbangkan unsur sentuhan dan cara tekstur agar mempengaruhi suasana ahti dan kreativitas, diantaranya :

  1. Gunakan sentuhan untuk menghadirkan kenyamanan fisik dan relaksasi
  2. Gunakan sentuhan untuk mencapai ketenangan
  3. Gunakan sentuhan dan gerak untuk mendapatkan rangsangan

  1. Citra rasa

Santapan mempegnaruhi suasana mental dan emosional menurut Judith Wurtman, ada 3 prinsip penting dalam masalah gizi yang harus diingat :

  1. Karbohidrat menyebabkan kantuk, dan akan mengurangi energi kreatif
  2. Protein meningkatkan kesiagaan, sedangkan lemak menumpulkan ketajaman mental
  3. Pola makan terbaik adalah yang mementingkan buah buahan segar dan sayuran, hindari makanan yang diproses, bahan sintesis, gula, tepung, kafein dan alkohol.

Ketujuh aspek lingkungan tersebut memberikan dampak diperlukannya kondisi bersih dan sehat dalam lingkungan kita, penataan ruang yang apik, tidak penuh denga barang yang tidak perlu dan gambar yang mengganggu dan tidak indah, serta ventilasi yang cukup. Banyak taman kanak kanak yang dibangun dari garasia taupun ruang lainnya yang sudah tidak terpakai, hal ini tidak menjadi masalah selama penataan ruangan tetap diperhatikan. Memberikan sentuhan warna dan gambar dibutuhkan namun tidak berarti TK menjadi “etalase” yang penuh dengan gambar yang kurang perlu.

Factor penting dalam meningkatkan kretifitas dikelas adalah peran guru. Banyak sekali hal yang dapat dilakukan guru disekolah untuk meransang dan tingkatkan daya pikir siswa, sikap dan prilaku kreatifitas siswa , melalui kegiatan dalam dan luar kelas. Potensi kreatifitas siswa disekolah dapat ditingkatkan dengan cara mengusahakan iklim di dalam kelas yang dapat gugah kreatifitas siswa. Guru harus menghargai keunikan pribadi dan potensi setiap siswa dan tidak perlu selalu menuntut dilakukannya hal-hal yang sama ( Utami munandar 1988). Pada waktu tertentu siswa diberi kebebasan untuk melakukan atau membuat sesuatu yang disenangi oleh siswa. Dalam kegiatan belajar berpikir kreatif dn pemecahan masalah secara kreatif diransng dengan mengundang siswa untuk ajukan pertanyaan, untuk mengemukakan masalah sendiri, untuk menggunakan imajinasi dalam mengemukakan macam-macam gagasan atau kemungkinan jawaban terhadap suatu persoalan. Dalam hal ini guru harus banyak member umpan balik dan minta siswa untuk menilai sendiri produk-produk kreatifitasnya. Guru yang kreatif adalah guru yang secara kreatif mampu menggunakan berbagai pendekatan dalam proses kegiatan belajar dan membimbing siswanya. Ia juga figur yang senang melakukan kegiatan kreatif dalam hidupnya.

Beberapa hal yang mendukung peran guru dalam mengembangkan kreativitas siswa adalah sebagai berikut :

  1. Percaya diri

Kepercayaan diri pada siswa dapat ditumbuhkan melalui siakp penerimaan dan menghargai perilaku anak. Kepercayaan diri merupakan syarat penting yang harus dimiliki siswa untuk menghasilkan karya kreatif. Hal ini diawali dengan keberanian mereka dalam beraktivitas. Dan setiap anak akan berani menampilkan karya alami mereka jika lingkungan terutama orang tua dan gru mengrganya.

  1. Berani mencoba hal baru

Untuk menumbuhkan kreativitas anak, mereka perlu dihadapkan pada berbagai kegiatan baru yang bervariasi. Kegaitan baru ini akan memperkaya ide dan wawasan anak tentang segala sesuatu. Jika seorang guru hanya mengandalkan kegiatan rutinsaja, ia akan kehilangan semangat dan motivasi untuk mengajar. Begitu pula dengan anak, mereka akan kehilangan “rasa ingin tahu” dan motivasi untuk belajar. Seorang pendidik yang kreatif akan semangat memahami kondisi ini, sehingga terus mengembangkan dirinya dan berinteraksi dengan hal baru.

  1. Memberikan contoh

Guru ekncing berdiri murid kencing berlari” merupaka pepatah yang tidaka sing lagi bagi telinga kita. Diakui atau tidak sosok seorang guru tetap merupakan figur dan teladan bagi murid muridnya. Seorang pendidik yang baik tidak akan pernah mengajarkan apa yang tidak dia lakukan. Demikian juga dalam pengajaran kreativitas. Seorang guru yang tidak kreatif, tidak mungkin dapat melatih anak didiknya untuk menjadi kreatif, oleh sebab itu, sebelum program peningkatan kreativitas anak dilakukan, terlebih dahulu gurupun mendapatkan “pencerahan” untuk meningkatkan kreativitasnya sendiri.

  1. Menyadari keragaman karakteristik siswa

Setiap anak adalah unik dan khas, amsing masing berbeda satu sama lain. Pemahaman dan kesadaran ini sksn membantu guru menerima keragaman perilaku dan karya mereka dan tidak memaksakan kehendak.

  1. Memberikan kesemaptan pada siswa untuk berekspresi dan bereksplorasi

Untuk mengembangkan kreativitas guru sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk berekspreso dan mengeksplorasi kegiatan yang emreka inginkan. Dengan demikian guru perlu menyiapakn berbagai epndekatan, metode dan media pembelajaran yang akan membuat anak bebas mengeksplotasi dan mengekspresikan dirinya sendiri.

  1. Positive thinking

Sikap penting seorang guru adalah positive thinking. Banyak anak cerdas dan kreatif menjadi korban, karena sikap guru dan lingkungannya yang negatif thinking. Anak yang aktif, tidak bisa diam, punya cara dan kehendak sendiri dalam mengerjakan tugas, tidak bisa langsung diberi cap sebagai anak nakal. Guru harus memprioritaskan positif thinking-nya, ketimbang asumsi negatifnya. Dengan positif thnking guru dapat mereduksi hambatan yang tidak perlu dan menghindari masalah baru yang mungkin timbul.

Linodgren(1976) menyatakan bahwa dalam kreatifitas siswa dapat ditingkatkan dengan cara menyediakan kesempatan didalam kelas untuk berpikir divergen.

Model pembelajaran Treffingger merupakan model pembelajaran kreatif yang paling efektif jika diadaptasikan dengan penggunaan kurikulum secara keseluruhan. Karena memungkinkan modipikasi baik dari materi, proses, produk, maupun lingkungan. Namun kekuatan yang terbesar adalah modifikasi proses dan produk.produk belajar juga memmbuka dimensi buku tidak hanya menyangkut perkembangan keterampilan baru tapi menggunakan keterampilan itu untuk tantangan kehidupan nyata.

Modifikasi Materi, Proses, Produk , dan Lingkungan

Model Belajar Kreatif paling efektif jika diadaptasi untuk pemggunaan kurikulum secara menyeluruh, karena memungkinkan modifikasi baik dari materi , proses, produk maupun lingkungan. Namun, kekuatannya yang terbesar adalah dalam modifikasi proses dan produk.

Dalam model ini baik proses kognitif maupun afektif dikembangkan, dengan rentangan tingkat kompleksitas, dengan rintangan kompleksifitas. Siswa yang lebih cepat menguasai keterampilan tingkat I atau tingkat II dapat melanjutkan ke giatan tingkat III, menerapkan apa yang telah mereka ketahui terhadap masalah atau keadaan baru dan berbeda delam hidupnya. Dengan demikian siswa belajar keterampilan yang beragam dan mampu menggunakannya jika diperlukan.

Produk belajar juga membuka dimensi buku. Produk belajar tidak hanya menyangkut perkembangan keterampilan baru, tetapi menggunakan keterampilan itu untuk tantangan kehidupan nyata. Jadi, produk belajar adalah masalah yang dipecahkan dan belajar proses memecahkan masalah. Dengan menggunakan ketiga tingkat dari model Treffinger, siswa membangun keterampilan menggunakan kemampuan kreatifitas dan menemukan penyaluran untuk mengungkapkan kreativitas selama hidup.

Manfaat Pengguanaan Model Treffinger

Mungkin sumbangan terbesar dari model Mendorong Belajar Kreatif adalah terhadap pengembangan kurikulum siswa berbakat yang menunjukkan peningkatan dari keterampilan tidak terbatas pada keterampilan dasar. Model ini menunjukkan secara grafis bahwa belajar kreatif mempunyai tingkatan dari yang relative sederhana sampai dengan yang majemuk. Siswa berbakat kreatif dapat menguasai keterampilan tingkat I dan II lebih cepat dari siswa lainnya. Bagi mereka proporsi waktu dan energi untuk tingkatan yang rendah dapat dikurangi. Semua siswa di dalam kelas dapat dilibatkan dalam kegiatan I dan II, tetapi hanya beberapa yang dapat melanjutkan ke tahap penerapan (Tingka III).

Disamping itu, model ini hendaknya digunakan secara menyeluruh dalam kurikulum. Berfikir kreatif merupakan bagian dari semua subjek yang diajarkan di sekolah. Kemajuan adalah profesi diperoleh melalui proses kreatif . oleh Karena itu, model ini dapat diterapkan pada semua kehidupan sekolah, mulai dari pemecahan konflik sampai dengan pengembangan teori ilmiah. Siswa akan melihat kemampuan mereka dalam lingkungan yang mendorong dan memungkinan penggunaannya.

          Pembelajaran kreatif adalah kemampuan untuk meciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi dan melakukan kegiatan artistik lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru. Dibentuk melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan. Dirancang untuk menstimulasi.

  1. Teknik pembelajaran kreatif tingkat 1
  • Memberikan pemanasan

       Untuk menumbuhkan iklim atau suasana kreatif didalam kelas yang memungkinkan siswa untuk membuka dirinya, merasa bebas dan aman untuk mengungkap pikiran dan perasaannya, guru perlu melakukan pemanasan atau warming up, seperti dilakukan seseorang sebelum berenang, hanya saja disini pemanasannya adalah secara mental. Jika sebelumnya siswa didalam kelas di tuntut untuk mengerjakan berbagai tugas yang sangat berstruktur, seperti mengulang apa yang diucapkan oleh guru, maka siswa memerlukan switch mental daro proses pemikiran reproduktif dan konvergen ke proses pemikiran divergen dan imajinatif.

       Tugas atau kegiatan yang bertujuan meningkatkan pemikiran dan sikap kreatif menuntut cara dan sikap belajar yang berbeda, lebih bebas, terbuka dan tertantang untuk berperan secara aktif dan memberanikan diri dan senang memberanikan diri dan senang memberikan gagasan sebanyak mungkin.

       Pemanasan dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tebuka yang menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa, seperti : “ apa saja yang membuat kamu merasa senang? Apa saja yang kamu sukai disekolah? Dan apa yang tidak kamu sukai? “ cara lain yang berhasil adalah dengan mendorong siswa mengajukan pertanyaan terhadap suatu masalah,seperti misalnya sering terjadi perkelahian antara siswa.

  • Sumbang saran (brainstroming)

       Teknik sumbang saran yang dikembangkan oelh Alex F, Osborn merupakan teknik yang ampuh untuk meningkatkan gagasan jika diajarkan dan dan diterapkan dengan tepat.

       Osborn, pendiri dari creative education foundation, dalam bukunya Applied Imaginationmenentukan 4 aturan dasar untuk sidang sumbang saran. Yaitu

  • Kritik tidak dibenarkan atau ditangguhkan
  • Kebebasan dalam memberikan gagasan
  • Gagasan sebanyak mungkin
  • Kombinasi dan peningkatan gagasan.

Biasanya sidang sumbang saran dilakukan dalam kelompok kecil (6-8 orang), meskipun juga dapat sendiri.

  • Pertanyaan yang menggangu gagasan

       Teknik ini yang juga disebut daftar periksa (check list), dikembangkan oleh alex osbron meningkatkan tujuan meningkatkan gagasan. Pertanyaan pertanyaan osbronyang berupa “kata kerja manipulatif” membantu seseorang dalam mengembangkan gagasan kreatif dengan melihat hubungan hubungan baru, memanipulasi informasi dan gagasan untuk menghasilkan ide ide yang orisinil.

Daftar pertanyaan Osbron adlah sebagai berikut:

  • Digunakan untuk hal-hal lain (Put to other uses)

Cara-cara baru untuk menggunakannya? Penggunakan lain bila dimodifikasi?

  • Menyesuaikan (Adapt)

Apa lainnya yang seperti ini? Gagasan-gagasan lain apakah yang dapat disarankan?

  • Mengubah (Modify)

Mengubah arti, warna, gerakan, suara, aroma, rasa, bentuk, ukuran? Perubahan lainnya?

  • Memperbesar (Magnify)

Apa yang perlu ditambah atau diperbesar/ ditingkatkan? Frekuensinya? kekuatannya? ukurannya? Tambah bahannya? Perlu digandakan?

  • Memperkecil (Minify)

Apa yang perlu dikurangi, dihilangkan, diperkecil, dipadatkan, diperpendek,? Dibuat lebih ringan? Diperlambat? Dibagi?

  • Mengganti (Substitute)

Menggantikan apa atau siapa? Bahan lain? Proses lain? Tempat, waktu atau pendekatan lain?

  • Menyusun kembali (Rearrange)

Adakah unsure-unsur yang perlu diubah susunannya? Pola, tata, letak, urutan lain?

  • Membalik (Reverse)

Melakukan yang sebaliknya, yang bertentengan memutarbalikkan, yang atas jadi bawah, yang dalam jadi luar

  • Menggabung (Combine)

Menggabung tujuan? Menggabung gagasan? Menggabung gagasan? Menggabungkan fungsi? Menggabungkan dana? Dipadukan?

  1. Teknik pembelajaran kreatif tingkat II
  • Synectics

       Teknik synectics dikembangkan oleh William J.J Gordon dan merupakanteknik berfikir kreatif yang menggunakan analogi dan metaphor (kiasan) untuk membantu pemikir menganalisis masalah dan pengembangan berbagai sudut tinjau, tidak memerlukan peralatan, kecuali kertas atau papan tulis agar semua dapat melihatnya. Kegiatan selanjutnya berlangsung dengan seluruh kelas dipimpin oleh guru atau dalam kelompok kecil dipimpin oleh siswa.

       Ada 3 jenis analogi yang digunakan dalam synectics, yaitu analogi fantasi, analogi langsung, dan analogi pribadi. Yang palingumum digunakan adalah analogi fantasi, disini siswa mencari pemecahan yang ideal untuk suatu masalah, termasuk solusi yang aneh dan tidak lazim. Guru dapat meminta siswa memikirkan bagaimana dapat menggerakkan alat yang berapt dihalaman sekolah. Siswa dapat menghayalkan analogi seperti makhluk makhluk kecil mengangkat alat tersebut, menggunakan gajah atau balon raksasa. Seperti pada sumbang saran, semua gagasan diterima, tidak ada yang di kritik, dan siswa dapat melanjutkan gagasan siswa lain. Setelah menghasilkan sejumlah fantasi, guru mengajak siswa melakukan evaluasi praktis dan menganalisis gagasan untuk menemukan yang mana dapat diterapkan secara praktis.

       Bentuk analogi lain adalah analogi langsung. Disini siswa diminta untuk menemukan situasi masalah sejajar dalam situasi dalam kehidupan nyata, misalnya bagaimana memindahlan perabot yang berat kedalam ruang kelas. Membawa anak anaknya. Beda utamanya dengan analogi fantasi dan analogi langsung adalah bahwa analogi fantasi dapat seluruhnya bersifat fiktif, sedangkan pada analogi langsung masalahnya dikaitkan dengan kehidupan nyata. Juga disini semua gagasan siswa diterima untuk kemudian ditinjau kemungkinan penerapannya secara praktis.

       Analogi pribadi menurut siswa menempatkan dirinya dalam peran masalah itu sendiri. Misalnya jika saay sebuah ayunan ditempat bermain dan ingin pindah ketempat lain, apa yang akan saya lakukan? Saya akan berayun jauh dan tinggi dan sampai saya dapat meraih pohon (seperti tarzan) saya dapat sampai ditempat yang saya inginkan”.

       Teknik synectics merupakan cara yang menyenangkan untuk melibatkan siswa dalam diskusi yang imaginatif dan menghasilkan strategi pemecahan masalah yang tidak lazim tetapi dapat dilaksanakan.

  • Futuristics

       Mengajar dengan pandangan masa depan amat penting agar siswa berbakat kelak dapat menggunakan kemampuan mereka untuk membantu menciptakan masa depan. Yang termasuk futurist yang paling terkenal di Amerika Serikat, menyatakan bahwa siswa perlu dibantu dalam mengaitkan perubahan yang akan terjadi didunia denganperubahan dalam kehidupan mereka sendiri.

Tujuan khusus untuk mengajar dengan pandangan masa depan adalah:

  • Memberikan siswaz cara-cara berpikir tentang masa depan yang lebih baik, lebih canggih dan lebih positif.
  • Membekali siswa dengan keterampilan dan konsep yang perlu untuk memahami sistem-sistem yang kompleks.
  • Membanatu siswa menemukali dan memahami masalah-masalah utama yang timbul pada masa depan
  • Membantu siswa memahami perubahan dan bagaimana menghadapinya.

Keterampilan khusus yang dapat digunakan pada futuristics ialah menulis scenario, menggambar roda masa depan, dan trending yang menggunakan pertanyaan untuk mengidentifikasi kecendrungan yang ada dan ang akan timbul

  1. Teknik pembelajaran kreatif tingkat III

       Jika pada tingkat I siswa perlu belajar untuk membuka dirinya terhadap pertanyaan pertanyaan yang berakhir terbuka dan terhadap kemungkinan memberikan banyak gagasan atau pemecahan masalah seperti pada teknik sumbang saran dan terknik pertanyaan yang memicu gagasan. Pada tingkat II siswa diajak untuk lebih meluaskan pemikiran mereka dan berperan serta dalam kegiatan yang lebih majemuk dan menantang, seperti pada teknik synectics dan futuristic, pada tingkat III siswa dilibatkan dalam tantangan dalam masalah nyata. Ia menjadi seseorang peneliti dan penelitiannya menggunakan teknik teknik kreatif yang ada pada tingkat I dan II.

  • Pemecahan masalah secara kreatif. proses ini meliputi 5 langkah, yakni menemukan fakta, menemukan masalah, menemukan gagasan, menemukan solusi, dan menemukan penerimaan (shallcross)
  • Proses lima tahap. Teknik pemecahan masalah secara kreatif yang dikemukakan oleh shallcross meliputi lima tahap, yaitu orientasi, persiapan, pengagasan, penilaian, dan pelaksanaan atau implementasi.

Sumber bacaan

Rachmawati, Yeni & Euis Kurniati. 2005. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak. Jakarta : Kencana

Mulyadi. 2005. Psikologi Belajar. Yogyakarta : Andi

Munandar, Utami, Pengembangan Kreatifitas Anak Berbakat, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 1999.

Related Posts

http://kulpulan-materi.blogspot.com/2012/11/model-treffinger-untuk-belajar-kreatif.html

http://miazart.blogspot.com/2011/02/pembelajaran-kreatif.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s