Perkembangan Emosional AUD

Standard

Perkembangan Emosional Anak Usia Dini

  1. Hakikat Perkembangan Emosional AUD

Jamaris dalam Sujiono mengatakan bahwa perkembangan merupakan suatu proses yang bersifat kumulatif artinya perkembangan terdahulu akan menjadi dasar bagi perkembangan selanjutnya. Oleh sebab itu, apabila terjadi hambatan pada perkembangan terdahulu maka perkembangan selanjutnya cenderung akan mendapat hambatan pula. Setiap perkembangan memiliki tahapan dan tahapan itu merupakan proses yang tidak dapat berhenti.

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu.

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia (Prawitasari,1995)

Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Seorang bayi yang baru lahir sudah dapat menangis, tetapi ia hampir mencapai tingkat kematangan tertentu sebelum ia dapat tertawa. Kalau anak itu sudah lebih besar, maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu pada situasi-situasi tertentu. Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang nampak sebagai ketidaksenangan dalam baru menangis dan merontak.

Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi. Jadi, sukar sekali kita mendefinisikan emosi.

Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).

Perkembangan emosional seperti perkembangan fisik dan social,mengikuti tahapan  perkembangan  yang dapat diramalkan tentang pertumbuhan. Bayi bereaksi terhadap emosi apapun dengan mengeluarkan suara tangisan yang tidak dibedakan. Anak kecil memiliki perilaku yang sangat memaksa. Meraka hanya memiliki sedikit kendali dari dorongan hati mereka dan mudah merasa putuh asa. Bagi anak yang berada di bangku Taman Kanak –kanak dan kelas satu,sudah dapat menyatakan dan melabelkan suatu emosi yang luas. Mereka dapat menguraikan rasa sedih yang mereka alami,rasa marah,atau perasaan senang dan juga menguraikan suatu situasi yang merupakan emosi yang dihasilkan oleh anak-anak yang lain.

  1. Kekhasan Perkembangan Emosional Anak

Anak mempunyai ciri khas emosi yang berbeda dengan orang dewasa. Perbedaan ini di karenakan, emosi berkembang sesuai dengan perkembangan usia kronologis. Semakin bertambah umur, semakin berkembang dengan sangat kompleks emosi individu.

Dibawah ini akan di jelaskan ciri khas emosi pada anak. Ciri khas emosi pada anak antara lain:

  1. Emosi yang kuat

Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh maupun yang serius. Anak pra remaja bahkan bereaksi dengan emosi yang kuat terhadap hal-hal yang tampaknya bagi orang dewasa merupakan soal sepele.

  1. Emosi seringkali tampak

Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi yang meningkat dan mereka menjumpai bahwa ledakan emosional seringkali mengakibatkan hukuman, sehingga mereka belajar untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang membangkitkan emosi. Kemudian mereka akan berusaha mengekang ledakan emosi mereka atau bereaksi dengan cara yang lebih dapat diterima.

  1. Emosi bersifat sementara

Peralihan yang cepat pada anak-anak kecil dari tertawa kemudian menangis, atau dari marah ke tersenyum, atau dari cemburu ke rasa sayang merupakan akibat dari 3 faktor, yaitu:

  1. Membersihkan sistem emosi yang terpendam dengan ekspresi terus terang.
  2. Kekurangsempurnaan pemahaman terhadap situasi karena ketidakmatangan intelektual dan pengalaman yang terbatas.
  3. Rentang perhatian yang pendek sehingga perhatian itu mudah dialihkan. Dengan meningkatnya usia anak, maka emosi mereka menjadi lebih menetap.
  4. Reaksi mencerminkan individualitas

Semua bayi yang baru lahir mempunyai pola reaksi yang sama. Secara bertahap dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai berbagai macam emosi semakin diindividualisasikan. Seorang anak akan berlari keluar dari ruangan jika mereka ketakutan, sedangkan anak lainnya mungkin akan menangis dan anak lainnya lagi mungkin akan bersembunyi di belakang kursi atau di balik punggung seseorang.

  1. Emosi berubah kekuatannya

Dengan meningkatnya usia anak, pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatannya, sedangkan emosi lainnya yang tadinya lemah berubah menjadi kuat. Variasi ini sebagian disebabkan oleh perubahan dorongan, sebagian oleh perkembangan intelektual, dan sebagian lagi oleh perubahan minat dan nilai.

  1. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku

Anak-anak mungkin tidak memperlihatkan reaksi emosional mereka secara langsung, tetapi mereka memperlihatkannya secara tidak langsung melalui kegelisahan, melamun, menangis, kesukaran berbicara, dan tingkah yang gugup, seperti menggigit kuku dan mengisap jempol.

Fungsi emosi pada anak

Fungsi dan peranan emosi pada perkembangan anak yang dimaksud adalah:

  • Merupakan bentuk komunikasi.
  • Emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya.
  • Emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan.
  • Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan.
  • Ketegangan emosi yang di miliki anak dapat menghambat aktivitas motorik dan mental anak (Resa, 2010).
  1. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosional Anak

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi Anak :

  • pengaruh Keadaan Individu Sendiri

Menurut Hurlock (dalam Nugraha, 2007: 4.5) keadaan diri individu seperti usia, keadaan fisik, inteligensi, peran seks dapat dipengaruhi perkembangan emosi. Hal yang cukup menonjol terutama berupa cacat tubuh ataupun yang dianggap oleh diri anak sebagai sesuatu kekurangan pada dirinya dan akan sangat mempengaruhi perkembangan emosinya. Kadang-kadang juga berdampak lebih jauh pada kepribadian anak. Dalam kondisi ini perilaku-perilaku umum yang biasanya muncul adalah mudah tersinggung, merasa rendah diri atau menarik diri dari lingkungannya dan lain-lain.

Dampak yang muncul pada anak akibat keadaan dirinya tersebut, pada tingkatan tertentu akan menjadi sangat membahayakan, terutama pada saat anak mengidentifikasi diri dan menemukan bahwa hal tersebut merupakan faktor nyata yang dianggap dapat merendahkan dirinya dalam lingkungannya. Hal tersebut akan semakin mempengaruhi jika lingkungan secara nyata menghindari dirinya dan memberikan reaksi penolakan. Tindakan preventif yang utama adalah membangun kesadaran bahwa kekurangan yang utama adalah suatu kewajaran, dan semua anak atau orang yang pasti memiliki kekurangan, hanya yang berbeda adalah letak dan bagian mana kekurangan itu berada. Jika kesadaran terbangun maka harus diikuti dengan membangkitkan semangat anak untuk berperan kembali di dalam lingkungannya, bahkan diarahkan untuk dapat berpartisipasi serta berkompetisi sesuai dengan kemampuan dan keberadaan dirinya.

Dengan berbekal kesabaran dan tanggung jawab, seorang guru ataupun orang tua sebagai pihak yang harus membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, haruslah menjalani treatment tersebut dengan penuh kesadaran. Seringkali guru atau orang tua merasa terlambat melakukan pencegahan terhadap perilaku emosi yang negatif, maka hal yang perlu dilakukan adalah mengenali secara teliti perbuatan yang menyimpang, serta melakukan pencatatan dan rekaman tertulis yang menandai. Jika guru atau orang tua mengenali gejalanya dan memiliki kesanggupan untuk menanganinya maka lakukanlah segera sebelum penyimpangan emosi melekat pada anak menjadi jauh lebih parah.

Menurut setiawan jumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi anak prasekolah atau tk, mampu menimbulkan gangguan yang mencemaskan para pendidik dan orang tua. Faktor – faktor tersebut yaitu meliputi :

  • pengaruh keadaan individu sendiri

Keadaan diri individu, seperti usia, keadaan fisik, intelegensi, peran seks (Hurlock) dapat mempengaruhi perkembangan emosi individu, perlu adanya tindakan preventif untuk menghindari dampak serius dari pengaruh emosi yang timbuldari dalam diri anak.

  • Konflik – Konflik dalam proses perkembangan

Didalam menjalani fase – fase perkembangan tiap anak harus melalui beberapa macam konflik yang pada umumnya dapat dilalui dengan sukses tetapi ada juga anak yang mengalami gangguan atau hambatan dalam menghadapi konflik – konflik ini

  • Sebab – sebab lingkungan

Anak – anak hidup dalam 3 macam lingkungan yang mempengaruhi perkembangan emosi. ketiga faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan tersebut adalah :

  1. Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan emosi anak– anak usia pra sekolah.

  1. Lingkungan sekitarnya

Kondisi lingkungan disekitar akan sangat berpengaruh terhadap tingkah laku serta perkembangan emosi dan pribadi anak. Lingkungan yang dapat mempengaruhi emosi pada anak bahkan mungkin menganggunya adalah :

  • Daerah yang terlalu padat
  • Daerah yang memiliki angka kejahatan tinggi
  • Kurangnya fasilitas rekreasi
  • Tidak adanya aktivitas yang di organisasikan dengan baik untuk anak
  1. Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah yang dapat menimbulkan gangguan emosi yangmenyebabkan terjadinya gangguan tingkah laku pada anak yaitu seperti ini :

  • Hubungan yang kurang harmonis antara guru dan anak
  • Hubungan yang kurang harmonis dengan teman – temannya

Faktor yang dapat mengganggu proses sosialisasi anak TK, soetarno berpendapat bahwa ada 2 faktor utama yang mempengaruhi perkembangan sosial anak, yaitu faktor lingkungan keluarga dan faktor dari luar rumah atau luar keluarga menurut Hurlock dengan faktor 3, yaitu faktor pengalaman awal yang diterima anak. Penjelasan dari 2 faktor tersebut adalah :

  1. Faktor lingkungan keluarga

Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan sosial anak. Diantara faktor yang terkait dengan keluarga dan yang banyak berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak adalah hal – hal yang berkaitan dengan:

  • Status sosial ekonomi keluarga
  • Keutuhan keluarga
  • Sikap dan kebiasaan orang tua
  1. Faktor dari luar rumah

Pengalaman sosial awal diluar rumah melengkapi pengalaman didalam rumah dan merupakan penentu yang penting bagi sikap sosial dan pola perilaku anak. Faktor pengaruh pengalaman sosial awal sangat menentukan perilaku kepribadian selanjutnya. Selain berbagai faktor diatas yang bersifat umum, faktor yang dianggap dapat menghambat perkembangan sosial anak pra sekolah, menurut (srimaryani Deliana) sbb :

  • Tingkah laku agresif

Tingkah laku agresif biasanya mulai tampak sejak usia 2 tahun, tetapi sampai usia 4 tahun tingkah laku ini masih sering muncul, terlihat dari seringnya anak TK saling menyerang secara fisik misalnya : mendorong,memukul, atau berkelahi

  • Daya suai kurang

Daya suai kurang biasanya disebabkan cakrawala sosial anak yang relative masih kurang. Masih terbatas pada situasi rumah dan sekolah

  • Pemalu

Rasa malu biasanya sudah terlihat sejak anak sudah mengenal orang –orang disekitarnya

  • Anak manja

Memanjakan anak adalah suatu sikap orang tua yang selalu mengalah pada anaknya, membatalkan perintah, atau larangan hanya karena anak menjerit, menetang, membantah.

  • Perilaku berkuasa

Perilaku berkuasa ini muncul sekitar 3 tahun dan semakin meningkat dengan bertambahnya kesempatan

  • Perilaku merusak

Ledakan amarah yang dilakukan oleh anak sering disertai tindakanmerusak benda – benda disekitarnya.

Menyikapi berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial emosional anak

  1. Perilaku terpenting bagi guru dan orang tua adalah memiliki kesanggupan dan kemampuan yang memadai untuk mengenali anak dan karakteristik perkembangan emosi dan sosialnya.
  2. Guru dan orang tua harus mampu menciptakan lingkungan yang kondusif dan sesuai tuntutan perkembangan emosi dan sosial anak.
  3. Penting bagi guru atau orang tua melengkapi kemampuan dirinya dalam menghilangkan dan menekan atau mengeliminasi faktor penyebab dan hal – hal negatif serta perusak perkembangan emosi dan sosial pada anak pra sekolah.

Menurut Reynold (dalam Nugraha, 2007: 11.7) beberapa faktor yang dapat menyebabkan permasalahan emosi adalah sebagai berikut:

  1. Latar belakang keluarga yang kasar, di mana kebiasaan kehidupan keluarga ini selalu menggunakan cara-cara kasar dalam menyelesaikan masalahnya, seperti menendang, mencaci, memukul, berkelahi, dan lain sebagainya.
  2. Perasaan tertolak secara fisik ataupun emosional oleh pihak orang tua. Anak yang tidak diinginkan biasanya merasakan perasaan ini.
  3. Orang dewasa yang belum dewasa dan memiliki kematangan yang cukup untuk melakukan pengasuhan anak.
  4. Kehilangan terlalu dini untuk merasakan kedekatan dengan orang yang disayangi. Misalnya, perceraian orang tua atau yatim piatu sejak kecil dan tidak memiliki orang tua pengganti yang mengasuhnya.
  5. Orang tua yang tidak mampu mencintai anaknya, disebabkan orang tuanya pun tidak pernah merasakan kasih sayang.
  6. Perasaan cemburu yang berlebihan dan tidak ditangani dengan baik, pada waktu anak mendapatkan adik baru dan merasa kehilangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya.
  7. Situasi baru di mana anak belum siap dalam menghadapi dan tidak menemukan pasangan yang cocok untuk menemaninya.
  8. Mendapat gertakan, gangguan dan ketidakramahan dari anak yang lain.

Dengan demikian dapat disadari bahwa betapa pentingnya pengaruh keluarga dalam membentuk perkembangan emosi anak terutama orang tua. Orang tua harus memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada anak supaya emosi anak berkembang dengan baik.

  1. Stimulasi – Stimulasi Untuk Membantu Perkembangan Emosional Anak

Stimulasi anak usia dini (AUD) adalah kegiatan merangsang secara memadai kemampuan dasar anak agar tumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya. Yang disebut perangsangan yang memadai adalah perangsangan yang dilakukan dengan benar, adekwat dan teratur, sesuai kelompok umur anak.

Para ahli tumbuh kembang menekankan empat aspek kemampuan dasar anak yang perlu mendapat rangsangan yaitu: kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan berbahasa, serta kemampuan bersosialisasi (berinteraksi), dan kemandirian. Kemampuan dasar lain yang juga perlu mendapatkan stimulasi adalah kemampuan kognitif, kreativitas, dan moral-spiritual. Masalahnya, orang tua khususnya ibu banyak yang tidak mengetahui hal ini sehingga stimulus pun absen diberikan saat mereka masih mengandung. Ketika sudah melahirkan, stimulus tampaknya masih merupakan hal yang asing. Sebenarnya orangtua dapat merangsang otak anak lewat interaksi dengannya. Hal ini bisa dicapai dengan metode mendengar, melihat, meniru, dan mengulang. Caranya bisa dengan rangsangan musik, suara, gerakan, perabaan, bicara, menyanyi, membaca, mencocokkan, membandingkan, memecahkan masalah, mencoret, menggambar, atau pun merangkai.Yang dirangsang sendiri adalah otak kanan, kiri, sensorik, motorik, kognitif, komunikasi-bahasa, sosio-emosional, kemandirian, dan kreativitas.

Ada beberapa prinsip dasar dalam melakukan stimulasi pada anak usia dini yang perlu diterapkan yaitu:

  • Stimulasi dilakukan dengan dilandasi rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak.
  • Selalu tunjukkan perilaku yang baik karena anak cenderung meniru tingkah laku orang-orang terdekat dengannya.
  • Dunia anak dunia bermain, karena itu stimulasi dilakukan dengan cara mengajak anak bermain, bernyanyi dan variasi lain yang menyenangkan, tanpa  paksaan dan hukuman.
  • Berikan stimulasi sesuai kelompok umur anak.
  • Stimulasi dilakukan dengan cara-cara yang benar, secara bertahap danber kelanjutan sesuai umur anak.
  • Menggunakan alat bantu/alat permainan yang sederhana, aman dan ada disekitar kita.
  • Anak laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama.

Stimulasi yang diperlukan anak usia 4-5 tahun adalah :

  1. Gerakan kasar, dilakukan dengan member kesempatan anak melakukan permainan yang melakukan ketangkasan dan kelincahan
  2. Gerakan halus, dirangsang misalnya dengan membantu anak belajar menggambar
  3. Bicara bahasa dan kecerdasan, misalnya dengan membantu anak mengerti satu separuh dengan cara membagikan kue
  4. Bergaul dan mandiri dengan melatih anak untuk mandiri

Tenangkan anak, terutama saat ia marah atau tidak senang, dengan memeluk hangat, lembut tetapi erat, intonasi yang ritmis dan kontak mata yang hangat. Jangan tegang atau kuatir karena hal tersebut akan dirasakan olehnya dan semakin membuatnya tidak tenang. Cari cara interaksi yang bisa memancing keterlibatan, ekspresi wajah, bunyi, sentuhan, dll. Cari berbagai pendekatan, eksplorasilah bersama-sama sampai menemukan cara mana yang paling disukainya.

Bacalah dan beri respon terhadap sinyal emosi anak, ada saat ia membutuhkan kedekatan namun ada juga saat ia ingin menjadi lebih asertif dan mandiri. Ikuti apa yang diinginkannya, jangan memaksakan agenda kita. Tunjukkan kegembiraan, antusiasme dan gairah dalam berinteraksi.

Ada beberapa metode yang menunjang perkembangan emosi anak, antara lain :

  • Tiral and error learning; anak  belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan.

Belajar secara coba dan ralat (trial and error learning) terutama melibatkan aspek reaksi. Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi tidak pernah ditinggalkan sama sekali.

  • Leraning by initation, belajar dengan cara meniru sekaligus mempengaruhi aspek rangsangan dan aspek reaksi.

Belajar dengan cara meniru (learning by imitation) sekaligus mempengaruhi aspek rangsangan dan aspek reaksi. Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Sebagai contoh, anak yang peribut mungkin menjadi marah terhadap teguran guru. Jika ia seorang anak yang popular di kalangan teman sebayanya, maka teman-teman yang lain juga akan ikut marah kepada guru tersebut.

  • Learning by identification, belajar dengan cara menidentifikasi diri sama dengan belajar menirukan.

Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification) sama dengan belajar secara menirukan, yaitu anak menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Metode ini berbeda dari metode menirukan dalam dua segi. Pertama, anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Kedua, motivasi untuk menirukan orang yang dikagumi lebih kuat dibandingkan  dengan motivasi untuk menirukan sembarang orang.

  • Conditioning; dalam metode ini obyek dan situasi yang pada umumnya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi.

Pengkondisian (conditioning) berarti belajar dengan cara asosiasi. Dalam metode ini obyek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Metode ini berhubungan dengan aspek rangsangan, bukan dengan aspek reaksi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah lewatnya masa kanak-kanak awal, penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.

  • Traning; pelatihan atau belajar dengan bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi

Pelatihan (training) atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Kepada anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan lingkungan apabila memungkinkan.

  1. Peran Guru Dan Orang Tua Dalam Membantu Mengembangkan Emosional Anak

Peran Guru dalam Pengembangan atau Pembelajaran Emosi pada Anak. Terdapat lima cara/ strategi pengembangan emosi pada anak, yaitu:

  1. Kemampuan untuk mengenali emosi diri

Untuk membantu mengenali emosi anak, dapat dilakukan dengan cara mengajarkan anak untuk memahami perasaan-perasaan yang dialaminya. Orang tua ataupun guru dapat mengajak anak untuk mendiskusikan mengenai berbagai emosi yang dirasakan berdasarkan pengalamannya. Misalnya mengarahkan rasa amarah anak dengan suatu kegiatan bermain.

  1. Kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi secara tepat

Anak dapat dibiasakan untuk berfikir realiatis sehingga anak dapat menanggapi suatu kejadian dengan perilaku yang tepat. Anak diajak untuk meredakan emosi marah atau kecewa dengan cara mengalihkan emosi itu pada kegiatan lain yang berarti, misalnya menggambar.

  1. Kemampuan untuk memotivasi diri

Pengembangan kemampuan untuk memotivasi diri didorong oleh kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah. Oleh sebab itu, orang tua dan guru diharapkan tidak mengabaikan kemampuan anak untuk belajar banyak dan orang tua dan guru perlu mananamkan optimisme pada anak.

  1. Kemampuan untuk memahami perasaan orang lain

Untuk mengembangkan keterampilan anak dalam memahami perasaan orang lain maka upaya pengembangan empati dan kepedulian terhadap orang lain menjadi sangat penting. Anak sebaiknya mendapatkan pengalaman langsung dalam kehidupan nyata untuk merasakan perasaan tersebut.

  1. Kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain

Latihlah anak untuk bergabung dengan anak yang lain, bermain kelompok, dan melakukan kerjasama.

Peran guru terhadap perkembangan emosi anak sangat penting setelah orang tua, sehingga peran guru juga sangat menentukan dalam perkembangan anak. Untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif dalam rangka mengembangkan emosi, guru dapat melakukan pengembangan emosi melalui pembiasaan sejak dini.

Kerjasama antara Orang Tua dan Guru dalam Perkembangan Emosi Anak 

Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya di rumah. Orang tua bertanggung jawab untuk mendidik atau mengasuh anak-anaknya agar menjadi dewasa, berkelakuan baik, memahami nilai-nilai yang berlaku di masyarakat dan memiliki wawasan yang luas. Di samping itu orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak agar anak mampu menjalani kehidupan. Sedangkan sekolah memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan membimbing anak-anak di sekolah, memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anak sesuai dengan kurikulum. Orang tua dan guru merupakan orang-orang yang paling penting dalam menunjang perkembangan anak.

Program kerjasama orang tua dengan guru, akan membuka kekakuan komunikasi dan kebutuhan komunikasi rumah dengan sekolah. Dengan program itu, akan saling terbuka wawasan dan pemahaman tentang pentingnya menangani anak secara bersama-sama. Mulusnya komunikasi rumah dan sekolah merupakan suatu yang sangat membantu, baik bagi pelayanan anak maupun baik kesuksesan program sekolah.

Menurut Nugraha (2007: 12.21) kerjasama antara guru dan orang tua dapat berupa:

  1. Guru mengadakan dialog dan pertemuan dengan orang tuanya.
  2. Guru dapat melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan yang berkenaan dengan usaha mendukung perkembangan anak.
  3. Guru dapat melakukan kunjungan ke rumah anak didik
  4. Orang tua dapat terlibat secara langsung dalam membantu proses pembelajaran kelas.

Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat kerjasama antara guru dan orang tua sebagai berikut:

  • Faktor pendukung
  • Orang tua peduli terhadap pendidikan anak.

Kepedulian orang tua terhadap pendidikan anak membuat orang tua selalu merasa ingin tahu mengenai perkembangan anaknya. Hal ini dapat meningkatkan perkembangan anak karena orang tua dan guru dapat bersama-sama mencari jalan keluar untuk mendukung perkembangan anak.

  • Sekolah bersifat terbuka dalam menerima masukan dari orang tua

Sekolah adalah lembaga formal yang diserahi tanggung jawab untuk mendidik oleh orang tua, tetapi dalam operasionalnya orang tua dapat dilibatkan dalam proses pembelajaran karena selain di sekolah anak juga mendapat pendidikan di rumah yang diberikan oleh orang tua.

  • Faktor penghambat
  • Orang tua sibuk bekerja

Orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada guru di sekolah dan meyerahkan anak pada anggota menghambat komunikasi secara langsung antara orang tua dan guru sehingga guru tidak dapat memberikan informasi mengenai perkembangan anak kepada orang tua.

  • Guru kurang dapat mengkomunikasikan perkembangan anak

Guru mengalami kesulitan dalam penyampaian mengenai perkembangan anak sehingga ini menjadi awal suatu permasalahan antara guru dan orang tua karena orang tua salah dalam menafsirkan pesan/penyampaian dari guru.

Peran Guru dalam Mengendalikan Emosi Anak Usia Dini 

Guru sangat berperan penting dalam menunjang perkembangan anak selain orang tua. Begitu pun dalam mengendalikan emosi peran guru sangat dibutuhkan. Peran orang tua digantikan oleh guru dalam menangani emosi anak apabila anak sudah masuk dalam lingkungan sekolah. Seorang guru menjadi pendidik yang berarti, sekaligus menjadi pembimbing dalam hal menuntut anak didiknya dalam perkembangan yang sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

Dalam mengendalikan emosi anak, guru juga harus melihat latar belakang keluarga anak. Apabila dalam keluarga orang tua tidak mampu mengendalikan emosi dengan baik maka sukar untuk mengharapkan anak mengendalikan emosi dengan baik pula. Dan hal ini akan dibawa anak sampai di lingkungan sekolah. Sehingga tugas gurulah untuk membantu orang tua dalam mengendalikan emosi anak. Emosi yang pada umumnya terjadi pada anak yaitu emosi takut, marah, gembira, sedih, dan cemburu. Guru dapat melakukan beberapa cara untuk mengendalikan emosi tersebut.

  1. Cara Guru Mengendalikan Emosi Takut pada Anak

Takut adalah salah satu bentuk emosi yang mendasar pada manusia, dan mendorongannya untuk bertingkah laku. Anak memang harus memiliki rasa takut agar anak tahu bahwa ada situasi tertentu di mana anak harus lebih waspada dan berhati-hati.

Menurut Surana, cara mengatasi rasa takut pada anak, yaitu:

  • Hargai rasa takut anak dan beri anak rasa aman.
  • Jangan jadikan rasa takut anak sebagai bahan ancaman.
  • Ajari anak secara bertahap mengenali dan menghilangkan rasa takutnya.
  • Bacakan buku cerita yang memuat cerita tentang anak yang dapat mengatasi rasa takutnya.

Rasa takut memang harus dimiliki setiap anak agar anak lebih waspada terhadap hal yang membahayakan. Tetapi apabila rasa takut sudah berlebihan akan mempengaruhi perkembangan anak juga. Maka dibutuhkan peran guru dalam mengatasi rasa takut tersebut.

  1. Cara Guru Mengendalikan Emosi Marah pada Anak

Rasa marah pada anak disebabkan karena apa yang anak inginkan tidak tercapai, diganggu, atau diharapkan pada suatu tuntutan yang berlawanan dengan keinginannya. Cara guru mengatasi rasa marah tersebut, yaitu dengan :

  • tenangkan si anak
  • jangan ikutan marah
  • ajarkan cara marah yang baik
  • guru harus tetap memegang kendali.

Jadi, jika memang anak meminta sesuatu yang di luar toleransi, guru harus tegas mengatakan “Tidak”. Jika anak menjadi marah dan mulai memukul ataupun melakukan tindakan lain yang membahayakan, bawalah anak ke tempat yang lebih aman hingga anak menjadi tenang. Selama anak tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya guru mengatakannya tanpa emosi ataupun memarahinya.

  1. Cara Guru Mengendalikan Emosi Gembira Pada Anak

Bila guru melihat anak sedang bergembira, maka ikutlah bergembira bersamanya. Keikutsertaan guru dalam kegembiraannya sangat berarti bagi anak. Menurut Risma (2005: 83) ada banyak cara agar anak merasa gembira, beberapa di antaranya yaitu:

  • libatkan diri dalam permainan anak
  • pupuk saling percaya
  • biarkan anak unjuk kemampuan.

Apabila anak sedang gembira, biarkan anak menunjukkan rasa gembiranya dengan cara yang anak inginkan, bila anak sedang bersedih, guru harus membuat anak gembira karena gembira adalah emosi yang menyenangkan.

  1. Cara Guru Mengendalikan Emosi Sedih pada Anak

Rasa sedih adalah salah satu bentuk emosi yang menyakitkan. Pada umumnya, anak mengekspresikan rasa sedihnya dengan tangisan. Akan tetapi terlalu banyak mengalami kesedihan juga akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologisnya. Cara guru mengatasi emosi sedih pada anak di antaranya, yaitu:

  • cari sumber kesedihan anak
  • alihkan perhatian anak
  • gunakan objek pengganti
  • ajarkan anak belajar tegar.

Kesedihan adakalanya dijadikan anak sebagai senjata untuk mencari perhatian guru. Guru harus bisa membedakan kesedihan anak, apakah anak benar-benar bersedih atau hanya mencari perhatian saja.

  1. Cara Guru Mengendalikan Emosi Cemburu pada Anak

Rasa cemburu anak biasanya timbul apabila anak merasa khawatir akan kehilangan kasih sayang dari orang terdekatnya. Di sekolah anak merasa cemburu apabila perhatian gurunya berpindah ke anak yang lain, sehingga anak merasa tidak diperhatikan lagi. Cara untuk mengatasi rasa cemburu tersebut bisa melalui dengan memberikan pengertian kepada anak bahwa guru menyayangi semua anak tanpa dibeda-bedakan dan bisa juga dengan guru memberikan pengertian kepada anak bahwa bukan hanya anak tersebut yang hanya diperhatikan tetapi anak lain juga perlu diperhatikan.

Dari uraian di atas maka diketahui bahwa peran guru dalam mengendalikan emosi anak sangatlah penting sehingga dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dari semua faktor yang mempengaruhi emosi anak, keluargalah yang paling penting. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan emosi anak. Jika emosi anak tumbuh dengan baik melalui pembelajaran yang baik dalam keluarganya maka di lingkungan berikutnya anak akan tumbuh dengan baik pula dan anak dapat diterima di lingkungan barunya itu, sehingga betapa besar pengaruh keluarga pada perkembangan emosi anak.
  2. Dengan memperoleh kasih sayang, perasaan terlindung dan penerimaan, maka anak akan bertumbuh dengan stabil dan memiliki keberanian membuka diri keluar pada orang lain. Sedangkan anak yang tidak memperoleh kasih sayang akan mengalami ketidakstabilan emosi, sehingga kasih sayang dari orang tua sangat dibutuhkan demi perkembangan emosi anak.
  3. Sekolah memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan membimbing anak-anak di sekolah. Peran guru juga sangat menentukan dalam perkembangan anak selain orang tua, terutama dalam mengendalikan emosi, karena orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada guru. Peran guru dalam mengendalikan emosi anak akan maksimal apabila guru dan orang tua dapat bekerjasama dalam perkembangan emosi anak.

Daftar Pustaka

Aisyah, Siti, dkk. 2007. Perkembangan dari Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini

Santrock. 2010. Perkembangan anak jilid I dan II. Jakarta: Erlangga

Nugraha, Ali & Rachmawati, Yeni. 2007. Metode Pengembangan Sosial Emosional

Hurlock, E.B. (1990). Psikologi Perkembangan Anak Jilid I. Jakarta: Aksara Pratama

http://titirachmi85.blogspot.com/2013/03/hakikat-perkembangan-anak-usia-dini.html

http://nenijuniarti.wordpress.com/2012/11/20/perkembangan-emosi-aud/

http://www.psychologymania.com/2012/06/ciri-khas-emosi-anak.html

www.ibudanbalita.net/…h-perkembangan-emosional.html

http://atikasusanti.blogspot.com/2012/06/perkembangan-emosi-anak.html

http://darmawaninnodderz.blogspot.com/2013/08/faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan.html

http://datafilecom.blogspot.com/2010/06/setiap-anak-mempunyai-suatu-keunikan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s