Aside

PENGENALAN KEMAMPUAN MENGENAL EMOSI DIRI

Kemampuan mengenali emosi diri adalah kemapuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seorang yang mampu mengenali emosinya sendiri adalah bila ia memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusam-keputusan secara mantap. Dalam hal ini misalnya sikap yang diambil dalam menentukan berbagai pilihan, seperti memilih: sekolah, sahabat, pekerjaan, sampai kepada pemilihan pasangan hidup kelak saat anak telah dewasa.

Guru perlu mengenali terlebih dahulu emosi yang anak rasakan sebelum memperkenalkan berbagai jenis emosi pada anak. Caranya yaitu dengan berusaha untuk lebih peka terhadap emosi yang mereka tunjukan. Sering kali dalam keseharian mengasuh anak, orangtua beranggapan bahwa perasaan “negatif” seperti sedih, marah, menangis, adalah sesuatu yang buruk. Dan ketika anak melakukannya, orangtua langsung menyuruhnya diam atau menakuti anak supaya diam. Cobalah untuk memberi perhatian lebih dengan menanyakan kenapa anak sedih atau marah.

Menurut John Gottman ada lima langkah penting bagi orangtua dalam melatih emosi anak, yaitu:

  1. Menyadari emosi anak

Ketika anak menangis, marah, senang, orangtua perlu menyadari bahwa anak juga memiliki perasaan untuk disayang, diakui, tidak baik bagi orangtua misalkan memarahi anak pada saat anak menangis, hendaknya orangtua mengetahui apa yang sedang dialami oleh sikecil.

 

  1. Mengakui emosi anak

Terkadang orangtua egois, tidak mau tau mengenai keinginan anak, orangtua lebih peduli pada apa yang ada dipikirannya, sehingga tidak mengakui kalau anak sedang marah, senang.

 

  1. Mendengarkan dengan emapati dan meneguhkan perasaan anak

Hal yang paling berbahaya bagi orangtua dalah pada saat orangtua tidak mau mendengar atau tidak mau tau mengenai masalah yang dihadapi oleh anak, orangtua cenderung memarahi tanpa memiliki empati terhadap anak, apalagi memberikan dukungan atau support dengan kata-kata yang dapat meneduhkan emosi anak.

 

  1. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah

Yang tidak kalah penting sebagai orangtua adalah, membantu anak dalam memecahkan masalahnya, namun bukan berarti semua masalah si anak diselesaikan tanpa melibatkan anak tersebut, karena jika tanpa melibatkan anak, maka hal itu akan memberikan pengaruh pada saat anak dewasa nanti tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya.

Emosi pada anak masih sangat labil,bahkan terkadang tidak bisa diprediksi. Kadang bahagia,tetapi sesaat kemudian dia marah,dan sedih atau adanya penunjukkan emosi yang tidak tepat atau bahkan merusak.

Dibawah ini diberikan tips menghadapi emosi anak :

  1. Latih ank usia 2 tahun untuk berbicara dengan baik. Kalau anak berteriak,”Minum lagi! Mana jusnya yang tadi ?” anda dapat mencontohkan,”Saya masih haus.minta jusnya lagi,boleh?”
  2. Bila anak tantrum,tetaplah tenang,hindari berteriak kearah anak,bicara dengan lembut,kemudian peluklah anak.
  3. Bila anak takut pada bumyi-bunyian,misalnya bunyi blender atau bunyi vacum cleaner,anak anak mencari sumber suara. Tetap peluk anak. Tunjukkan padanya bahwa sumber suara tidak berbahaya bagi siapa pun. Cara ini mengajak anak mengenali sumber ketakutannya. Hindari menakut-nakuti anak,karena anak tidak akan pernah belajar mengatasi rasa takutnya.
  4. Kegembiraan anak berkait erat dengan aktifitasnya. Sediakan pasir,tanah,air dan lempung. Anak-anak sangat menyukai bermain kotor dan belajar sesuatu yang luar biasa dengan mencampur,mengaduk dan membentuk.
  5. Jangan memberikan contoh pada anak yang jelek. Misalnya untuk menghilangkan perilaku jeleknya,anak ditakut-takuti akan adanya hantu,setan dll. Tumbuhkanlah sikap-sikap yang positif baik itu ucapan,tindakan dll.

 

  1. A.     MELABELI EMOSI ANAK

Penting bagi orangtua adalah membantu untuk melabeli emosi, hal ini agar emosi anak dapat dicurahkan atau ditempatkan pada tempat yang tepat, anak diajarkan untuk mengatur kontrol emosinya. Setiap anak membutuhkan perasaan dicintai, dihargai, dan diterima. Tetapi, sering kali orang tua menggunakan cara yang salah untuk mendisiplinkan anaknya. Sering kali orang tua memberikan julukan negatif kepada anak, misalnya Si Dungu, Si Goblok, Si Lelet, Si Biang Kerok, Si Pemalas, Si Pengacau, Si Penipu, dan sebagainya. Dan juga ucapan lain yang mengecilkan arti si anak, misalnya orangtua menyebut anak sebagai “tak berguna”, atau “percuma dilahirkan” Atau ada juga yang menyebut si anak dengan memberikan kesan bahwa si anak tidak diharapkan, misalnya dengan menyebutnya sebagai “anak pungut” atau “diambil dari rumah sakit” atau “diambil dari tempat sampah” atau menyatakan bahwa “nggak mungkin anak Papa Mama”, dan sebagainya. Ada juga yang menganggap anak sebagai sumber kesialan, dengan berkata, “menyesal sudah melahirkan”. Orang tua juga sering melecehkan kemampuan anak, seperti, “Ah, mana mungkin dia bisa?” atau, “Sudahlah, kamu ngerti apa….” atau, “Aku jamin kamu pasti gagal…” Kadang juga lebih halus, “Pengen deh lihat kamu berhasil, tetapi itu mustahil….”

Semua hal di atas dapat berakibat destruktif bagi si anak, dapat menurunkan harga diri dan juga kepercayaan dirinya. Ketika itu terjadi, si anak dapat mengalami perilaku yang tidak baik bahkan dapat mengikuti perilaku sesuai dengan julukan yang dia terima dan ini dapat mengganggu hubungannya dengan teman dan lingkungannya dan bisa mempengaruhi prestasi belajarnya.

Orang tua yang emosional sering kehilangan kesabarannya dalam mendidik anak dan keluarlah julukan-julukan yang tidak baik bagi si anak. Citra diri yang negatif itu di kemudian hari menyebabkan anak tidak mampu tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Anak akan memiliki rasa malu yang kuat, bersikap ragu-ragu, dan lebih suka menarik diri dari pergaulan.

Pada anak yang lain, citra diri negatif tersebut bahkan dapat membentuknya tumbuh sebagai pribadi pemberontak, kasar, bodoh, jorok, lamban, pengacau, dan sebagainya. Pendek kata, anak akan menampilkan diri sesuai dengan julukan yang diberikan kepadanya oleh orangtua. Anak-anak itu sangat percaya pada ucapan yang berkali-kali keluar dari mulut ayah ibu mereka.Dengan kata lain, jika kita sebagai orangtua mengharapkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang baik, sehat, cerdas, berbudi luhur; tentunya kata-kata, sikap, dan perilaku kita pun harus sesuai dengan harapan tersebut. Apabila hal itu telah terjadi, yang perlu dilakukan adalah pertama meminta maaf pada si anak dan meyakinkan lagi bahwa sebagai anak dia sangat dicintai.

Mendisiplinkan anak memang menjadi tugas orang tua. Tetapi, kata-kata kasar dan julukan jelek bagi si anak tidak boleh pernah keluar dari mulut orang tua karena dampaknya sangat besar bagi perkembangan anak dan juga psikologisnya. Berteriak ketika marah memang sangat mudah dilakukan tetapi perlu diingat bahwa itu tidak akan memberikan penyelesaian. Apabila kita ingin mendisiplinkan anak, lebih baik menggunakan cara yang lain seperti mengambil mainan si anak sampai si anak mengubah perilakunya. Misalnya, berikan satu bintang dari kertas padanya setiap dia melakukan perilaku yang baik dan bila sudah terkumpul lima bintang berikan hadiah padanya. (prinsip token ecconomy). Setelah si anak bisa lebih tenang, peluk dan berikan penjelasan padanya kenapa hal tersebut dilakukan. Kata-kata dapat memberikan dampat negatif dan positif bagi anak, apabila Anda tidak dapat mengontrol emosi, mintalah bantuan pada psikiater untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

  1. B.     MENGAITKAN PENGALAMAN ANAK  DENGAN EMOSI TERTENTU

Menurut Hurlock, 1978:211 menyebutkan bahwa emosi mempengaruhi penyesuaian pribadi sosial dan anak. Pengaruh tersebut antara lain tampak dari peranan emosi sebagai berikut:

  • Emosi menambah rasa nikmat bagi pengalaman sehari-hari. Salah satu bentuk emosi adalah luapan perasaan, misalnya kegembiraan, ketakutan ataupun kecemasan. Luapan ini menimbulkan kenikmatan tersendiri dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan memberikan pengalaman tersendiri bagi anak yang cukup bervariasi untuk memperluas wawasannya.
  • Emosi menyiapkan tubuh untuk melakukan tindakan. Emosi dapat mempengaruhi keseimbangan dalam tubuh, terutama emosi yang muncul sangat kuat, sebagai contoh kemarahan yang cukup besar. Hal ini memunculkan aktivitas persiapan bagi tubuh untuk bertindak, yaitu hal-hal yang akan dilakukan ketika tibul amarah. Apabila persiapan ini ternyata tidak berguna, akan dapat menyebabkan timbulnya rasa gelisah, tidak nyaman, atau amarah yang justru terpendam dalam diri anak.
  • Ketegangan emosi mengganggu keterampilan motorik. Emosi yang memuncak mengganggu kemampuan motorik anak. Anak yang terlalu tegang akan memiliki gerakan yang kurang terarah, dan apabila ini berlangsung lama dapat mengganggu keterampilan motorik anak.
  • Emosi merupakan bentuk komunikasi. Perubahan mimik wajah, bahasa tubuh, suara, dan sebagainya merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyatakan perasaan dan pikiran (komunikasi non verbal).
  • Emosi mengganggu aktivitas mental. Kegiatan mental, seperti berpikir, berkonsentrasi, belajar, sangat dipengaruhi oleh kestabilan emosi. Oleh karena itu, pada anak-anak yang mengalami gangguan dalam perkembangan emosi dapat mengganggu aktivitas mentalnya.
  • Emosi merupakan sumber penilaian diri dan sosial. Pengelolaan emosi oleh anak sangat mempengaruhi perlakuan orang dewasa terhadap anak, dan ini menjadi dasar bagi anak dalam menilai dirinya sendiri.
  • Emosi mewarnai pandangan anak terhadap kehidupan. Peran-peran anak dalam aktivitas sosial, seperti keluarga, sekolah, masyarakat, sangat dipengaruhi oleh perkembangan emosi mereka, seperti rasa percaya diri, rasa aman, atau rasa takut.
  • Emosi mempengaruhi interaksi sosial. Kematangan emosi anak mempengaruhi cara anak berinteraksi dengan lingkungannya. Di lain pihak, emosi juga mengajarkan kepada anak cara berperilaku sehingga sesuai dengan ukuran dan tuntutan lingkungan sosial.
  • Emosi memperlihatkan kesannya pada ekspresi wajah. Perubahan emosi anak biasanya ditampilkan pada ekspresi wajahnya, misalnya tersenyum, murung atau cemberut. Ekspresi wajah ini akan mempengaruhi penerimaan sosial terhadap anak.
  • Emosi mempengaruhi suasana psikologis. Emosi mempengaruhi perilaku anak yang ditunjukkan kepada lingkungan (covert behavior). Perilaku ini mendorong lingkungan untuk memberikan umpan balik. Apabila anak menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan, dia akan menerima respon yang kurang menyenangkan pula, sehingga anak akan merasa tidak dicintai atau diabaikan.
  • Reaksi emosional apabila diulang-ulang akan berkembang menjadi kebiasaan. Setiap ekspresi emosi yang diulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan pada suatu titik tertentu akan sangat sulit diubah. Dengan demikian, anak perlu dibiasakan dengan mengulang-ulang perilaku yang bersifat positif, sehingga akan menjadi kebiasaan yang positif pula.
  1. C.     MENGENALKAN BAHASA EMOSI PADA ANAK

Orang tua perlu menggunakan kepekaan mereka untuk menyelaraskan diri dengan perasaan-perasaan anak. Hal ini dapat dilakukan bila orang tua sadar terhadap emosi-emosi mereka sendiri. Untuk menjadi orang tua yang sadar dan peka perlu latihan. Sering kali anak-anak mengungkapkan emosi mereka secara tidak langsung dan dengan cara-cara yang membingungkan orang dewasa.  Kemampuan berbahasa yang baik setidaknya dapat membantu  anak mengendalikan emosinya dalam dua aspek . Yang pertama kemampuan berbahasa yang baik memungkinkan mereka untuk meminta dukungan pada orang tua mereka saat menghadapi situasi frustasi, misalnya dengan menanyakan pada ibu mereka sudahkah selesai dengan pekerjaannya. Yang kedua, kemampuan berbahasa yang baik juga dapat mengalihkan mereka dari situasi frustasi, seperti berbicara pada diri mereka sendiri.

Bentuk-bentuk dari emosi yang sering ditemukan pada anak adalah sebagai berikut:

  • Rasa takut

Ciri khas yang penting pada semua rangsangan takut ialah bahwa hal itu terjadi secara mendadak dan tidak diduga-duga dan anak hanya mempunyai kesempatan yang kecil sekalai untuk menyesuaikan diri dengan situasi-situasi tersebut. rasa takut kepada orang yang tidak dikenal pada bayi sebagian disebabkan karena terbiasa melihat wajah yang sudah dikenal dan karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan cepat pada permunculan orang yang tidak dikenal secara sekonyong-konyong. Dengan meningkatnya usia anak dan lebih matangya intelektual, mereka dapat menyesuaikan diri lebih cepat dengan keadaan yang muncul sekonyong-konyong yang tidak terduga. Akibatnya, banyak kondisi yang pada saat mereka yang berusia lebih muda menimbulkan rasa takut kini tidak dirasakan lagi.

  • Rasa malu

Rasa malu merupakan bentuk ketakutan yang ditandai oleh penarikan diri dari hubungan dengan orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering berjumpa. Rasa malu selalu ditimbulkan oleh manusia, bukan oleh binatang atau situasi. Dengan bertambahnya usia, hanya sedikit anak yang menghindarkan diri dari pengalaman malu yang kadang-kadang terjadi. Anak -anak yang lebih tua menunjukkan rasa malu dengan muka memerah, dengan menggagap, dengan berbicara sesedit mungkin, dengan tingkah yang gugup seperti menarik-narik telinga atau baju, dengan menolehkan wajah kearah lain dan kemudian mengangkatnya dengan tersipu-sipu untuk menatap orang yang tidak dikenal itu.

  • Rasa canggung

Seperti halnya rasa malu, rasa canggung adalah reaksi takut terhadap manusia, bukan pada objek atau situasi. Rasa canggung berbeda dari rasa malu dalam hal bahwa kecanggungan tidak disebabkan oleh adanya orang yang tidak dikenal atau orang yang sudah dikenal yang memakai pakaian seperti biasanya, tetapi lebih disebabkan oleh keragu-raguan tentang bpenilaian orang lain terhadap perilaku atau diri seseorang. Oleh karena itu rasa canggung merupakan keadaan khawatir yang menyangkut kesadaran-diri (self-conscious distress).

  • Rasa khawatir

Rasa khawatir biasanya di jelaskan sebagai “khayalan ketakutan” dan “gelisah tanpa alsan”. Tidak  seperti ketakutan yang nyata, rasa khwatir tidak langsung di timbulkan oleh rangsangan dalam lingkungan tetapi merupakan produk fikiran anak itu sendiri. Rasa khawatir timbul karena membayangkan situasi berbahaya yang mungkin akan meningkat. Ke khawatiran adalah normal pada masa kanak-kanak, bahkan pada anak-anak yang penyesuaiannya paling baik sekalipun.

  • Rasa cemas

Rasa cemas adalah keadaan mental yang tidak enak berkenaan dengan sakit yang mengancam atau yang di bayangkan. Rasa cemas di tandai oleh ke khawatiran, ketidakkenakan, dan prarasa yagn tidak baik yang tidak dapat di hindari oleh seseorang, di sertai dengan perasaan yang tidak berdaya karena merasa menemui jalan buntu, dan di sertai pula dengan ke tidak mampu menemukan pemecahan masalah yang di hadapai.

  • Rasa marah

Rasa marah adalah ekspresi yang lebih sering du ungkapkan pada masa kanak-kanak jika di bandingkan dengan rasa takut. Alasannya ialah karena rangsangan yang menimbulkan rasa marah lebih banyak, dan pada usia yang dini anak-anak mengetahui bahwa kemarahan merupakan cara yang efektif untuk memperoleh perhatian atau memenuhi ke inginan mereka. Sebaliknya, reaksi takut semakin berkurang karena kemudian anak-anak menyadari bahwa umumnya tidak ada perlunya merasa takut.

  • Rasa cemburu

Rasa cemburu adalh reaksi normal terhadap kehilangan kasih sayang yang nyata, di bayangkan, atau ancaman kehilangan kasih sayang, rasa cemburu timbul dari kemarahan yagn menimbulkan sikap jengkel dan di tunjukkan kepada orang lain. Pola rasa cemburu sering kali berasal dari rasa takut yang di koombinasikan dengan rasa marah. Rasa cemburu pada anak umumnya di tumbuhkan di rumah artinya timbul dari kondisi yang ada di lingkungan rumah.

  • Duka cita

Duka cita adalah teroma fisikis, suatu kesengsaraan emosional yang di sebabkan oleh hilangknya sesuatu yang di cintai. Dalam bentuk yang lebih ringan keadaan ini di kenal sebagai kesusahan atau kesedihan. Bagi anak umumnya, duka cita bukan emosi yang sangat umum karena ada tiga alasan yaitu: para orang tua, guru, dan, orang dewasa lainnya berusaha mengamankan anak tersebut, dari berbagai aspek duka cita. Kedua, anak-anak terutama apabila mereka masih kecil, mempunyai ingatna yang tidah bertahan terlalu lama, sehingga mereka dapat di bantu melupakan duk cita. Ketiga, tersedianya pengganti untuk sesuatu yang telah hilang itu.

  • Kegembiraan, keriangan, kesenangan

Kegembiraan adalah emosi yang menyenangkan yang juga di kenal dengan keriangan, kesenangan,  atau kebahagiaan. Setiap anak berbeda-beda intensitas kegembiraan dan jumlah kegambiraannya serta cara mengexpresikannya sampai batas-batas tertentu dapat di ramalkan, contohnya ada kecendrungan umur yagn dapat di ramalkan, yaitu anak-anak yang lebih muda merasa gembira dalam bentuk yang lebih menyolok dari pada anak-anak yang lebih tua.

  • Reaksi kasih sayang

Kasih sayang adalh reaksi emosional terhadap seseorang, binatang atu benda. Hal itu menuukkan perhatian yang hangat dan mungkin terujud dalam bentuk fisik atau kata-kata. Anak-anak cenderung paling suka kepada orang yang menyukai mereka dsan anak-anak bersikap “ramah-tama” terhadap orang itu. Kasih sayang mereka terutama di tujukan kepada manusia. “objek kasih sayang” yang berupa binatang atau benda-benda kadang-kadang merupakan pengganti bagi objek kasih sayang kepada manusia.

 

 

 

 

 

  1. D.     MEMINTA ANAK MEMBERI NAMA TINGKAH LAKU

Bantulah anak memberi nama emosi-emosi yang sedang mereka rasakan. Bantulah anak-anak menemukan kata-kata untuk melukiskan apa yang sedang mereka rasakan. Orang tua perlu membantu anak merumuskan masalah dan emosi yang sedang dirasakan dengan nama-nama emosi seperti ”tegang,” ”marah,” ”cemas,” ”sedih,” ”takut,” ”sakit hati,” dan lain sebagainya. Menyediakan kata-kata untuk membantu memberi nama emosi dapat membantu anak-anak mengubah suatu perasaan yang tidak jelas, menakutkan, dan tidak nyaman menjadi sesuatu yang bisa dirumuskan, sesuatu yang mempunyai batas-batas, serta merupakan bagian wajar dari kehidupan sehari-hari. Semakin tepat anak-anak dapat mengungkapkan perasaan-perasaan mereka dalam kata-kata, itu semakin baik. Sebagai contoh, apabila anak sedang marah, bisa jadi ia juga merasa sakit hati, kecewa, bingung, iri hati dan lain sebagainya.

 

 

pengenalan kemampuan mengenal emosi diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s