Karakteristik tingkah laku kreatif anak

Standard

Karakteristik tingkah laku kreatif anak

Gunawan (2003) menjelaskan, manusia sejak lahir memiliki 100-200 miliar sel neuron aktif yang didukung oleh 900 miliar sel pendukung lainnya. Jadi total adalah 1 triliun sel otak yang siap memproses triliunan informasi yang disebut “blue print”. Manusia diberi otak yang sedemikian luar biasa kemampuannya, namun ini barulah potensi. Potensi ini harus dikembangkan. Meskipun memiliki jumlah sel otak yang sangat banyak, ini bukanlah jaminan seseorang bisa menjadi makhluk yang cerdas. Kecerdasa seseorang sebenarnya tergantung pada seberapa banyak koneksi yang terjadi pada setiap sel otak tersebut. Setiap sel otak memiliki kemungkinan koneksi dari satu hingga dua puluh ribu koneksi. Jadi, bisa dibayangkan betapa besar potensi yang dimiliki oleh manusia yang harus dikembangkan dan dioptimalkan.

Prestasi kreativitas sangat ditentukan oleh ciri-ciri afektif disamping kognitif. Dari dua hal itu muncul dua bentuk kegiatan yaitu aptitude dan nonaptitude. Aptitude adalah kegiatan yang berhubungan dengan kognitif dan kemampuan berfikir seperti menangkap masalah, kelancaran, orisinalitas, dan elaborasi. Sedangkan nonaptitude atau disebut juga afektif  kreativitas adalah bentuk kegiatan yang berhubungan dengan afektif yaitu sikap, perasaan atau motivasi. Ciri-cirinya antara lain rasa ingin tahu, berani mengambil resiko, bebas dalam berpikir dan sebagainya (Lynch 2004).

Anak usia prasekolah imajinasi yang amat kaya sedangkan imajinasi ini merupakan dasar dari semua jenis kegiatan kreatif. Mereka memiliki “kreativitas alamiah” yang tampak dari prilaku seperti: sering bertanya, senang menjajagi lingkungan, tertarik untuk menjadi segala sesuatu, dan memiliki daya khayal yan kuat. Anak-anak diusia ini mulai mengembangkan perasaan otonomi serta ingin melakukan semuanya sendiri. Rasa ingin tahunya yang besar perlu dikembangkan dengan menunjukkan rasa antusias yang tinggi bila ia menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru. Orang tua dan guru perlu mengarahkan mereka untuk menyumbangkan ide dalam membuat suatu perencanaan. Tahapan usia ini merupakan saat yang terbaik untuk mengembangkan imajinasi dalam menciptakan kejutan-kejutan baru bagi teman-teman dan anggota keluarga (Mulyadi,2004).

Pada dasarnya manusia mempunyai potensi kreatif sejak awal ia diciptakan. Potensi kreatif ini dapat kita lihat melalui keajaiban alamiah seorang bayi dalam mengeksplorasi apapun yang ada disekitarnya. Berdasarkan realita tersebut maka pendidikanlah yang mengemban tugas untuk dapat mengembangkan potensi kreatif yang dimiliki manusia tersebut.

Diakui atau tidak, memang pada dasarnya setiap manusia mempunyai potensi keatif. Hanya saja dalam perjalanan hidupnya ada yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi kreatifnya, ada pula yang kehilangan potensi kreatifnya karena tidak mendapat kesempatan ataupun tidak menemukan lingkungan yang memfasilitasi berkembangnya potensi kreatif tersbut.

Dengan potensi alami yang dimilikinya, maka anak akan senantiasa membutuhkan aktifitas yang sarat dengan ide-ide kreatif. Mereka perlu mendapatkan pembinaan yang tepat yang memungkinkan mereka untuk dapat mengembangkan kemampuan dan potensinya tersebut dapat berguna bagi dirinya, keluarga dan masyarakat luas pada umumnya.

Dalam mengembang kreatifitas hendaknya dilakukan sejak dini (golden age), sebab pada masa ini individu memiliki peluang yang sangat besar untuk dapat mengembangkan potensinya tersebut. Oleh karena itu kreatifitas perlu dirangsang perkembangannya sejak masa kanak-kanak. Sampai pada usia empat tahun seorang anak telah mencapai separuh dari kecerdasannya. Rangsangan yang diberikan pada tahun-tahun pertama kehidupannya akan memberikan hasil yang paling besar dalam peningkatan potensinya.

Bermain merupakan suatu dorongan fitrah yang merupakan pembawaan manusia dan tidak terbatas oleh usia. Bermain mempunyai arti yang sangat penting bagi anak, kegiatan bermain merupakan ungkapan jiwa yang benar, menyenangkan dimana didalamnya ada semacam rekreasi jiwa yang cenderung pada kebebasan dan spontanitas yang digambarkan secara jujur. Bermain adalah hak asasi yang memilik nilai utama yang hakiki bagi anak pada masa pra sekolah. Kegiatan bermain pada anak usia dini adalah sesuatu yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangannya baik yang bersifat fisik maupun psikis. Dalam bermain anak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan sesuatu yang ia rasakan dan pikirkan. Dengan bermain, anak dapat mengembangkan otot halus dan kasar, meningkatkan penalaran dan mengenal lingkungannya, mengembangkan daya imajinasi, fantasi dan kreatifitas anakpun terasah.

Anak-anak pada dasarnya adalah individu yang kreatif. Mereka memiliki cirri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai cirri-ciri individu yang kreatif. Misalnya, rasa ingin tahu yang besar, sering bertanya, imajinasi yang tinggi, minat yang banyak, tidak takut salah, berani menghadapi resiko, bebas dalam berpikir, senang akan hal-hal yang baru, dan sebagainya.

Dalam hal ini, orangtua dan guru perlu bekerja sama dan memahami kreatifitas anak-anak dengan bersikap luwes dan kreatif pula. Kreatifitas yang dimilik anak seharusnya mendapatkan perhatian, bimbingan serta stimulasi yang tepat agar dapat berkembang dengan optimal. Sekarang ini, dunia pendidikan anak terutama untuk anak usia dini sangat membutuhkan guru yang kreatif. Pandai saja tidak cukup, tetapi juga harus cerdas dalam mengembangkan keterampilan dan mencari bahan ajar yang betul-betul sesuai dengan peserta didik.

Sebenarnya, pendidik tidak hanya bergantung pada buku atau bahan ajar dan alat peraga yang telah ada atau tersedia. Alam semesta sesungguhnya merupakan sumber belajar yang tidak ada habisnya. Bagaimana memanfaatkan dan memberdayakan alam semesta sebagai sumber belajar yang sangat bergantung pada kreatifitas guru dan memotivasi, menstimulasi serta merancang kegiatan pembelajaran bagi peserta didik.

  1. Kemampuan melakukan imajinasi

Pada dasarnya manusia mempunyai potensi kreatif sejak awal ia diciptakan. Potensi kreatif ini dapat kita lihat melalui keajaiban alamiah seorang bayi dalam mengeksplorasi apapun yang ada disekitarnya. Berdasarkan realita tersebut maka pendidikanlah yang mengemban tugas untuk dapat mengembangkan potensi kreatif yang dimiliki manusia tersebut.

Diakui atau tidak, memang pada dasarnya setiap manusia mempunyai potensi keatif. Hanya saja dalam perjalanan hidupnya ada yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi kreatifnya, ada pula yang kehilangan potensi kreatifnya karena tidak mendapat kesempatan ataupun tidak menemukan lingkungan yang memfasilitasi berkembangnya potensi kreatif tersbut.

Dengan potensi alami yang dimilikinya, maka anak akan senantiasa membutuhkan aktifitas yang sarat dengan ide-ide kreatif. Mereka perlu mendapatkan pembinaan yang tepat yang memungkinkan mereka untuk dapat mengembangkan kemampuan dan potensinya tersebut dapat berguna bagi dirinya, keluarga dan masyarakat luas pada umumnya.

Dalam mengembang kreatifitas hendaknya dilakukan sejak dini (golden age), sebab pada masa ini individu memiliki peluang yang sangat besar untuk dapat mengembangkan potensinya tersebut. Oleh karena itu kreatifitas perlu dirangsang perkembangannya sejak masa kanak-kanak. Sampai pada usia empat tahun seorang anak telah mencapai separuh dari kecerdasannya. Rangsangan yang diberikan pada tahun-tahun pertama kehidupannya akan memberikan hasil yang paling besar dalam peningkatan potensinya.

Anak yang kreatif adalah anak yang suka berimajinasi. Dalam permaianan imajinasi anak-anak dapat memperagakan suatu situasi, memainkan peranannya secara tertentu, memainkan peran seseorang dan menggantinya bila tidak cocok ataupun membayangkan sesuatu yang tidak pernah mereka alami.

Janice Beaty (1994) menyatakan bahwa bagi anak , imajinasi adalah kemampuan untuk merespon atau melakukan fantasi yang mereka buat. Kebanyakan anak berusia dibawah tujuh tahun banyak melakukan hal tersebut. Para pakar spesialis anak sekarang ini telah mengetahui bahwa imajinasi merupakan salah satu hal yang efektif untuk mengembangakan kemampuan intelektual, social, bahasa dan terutama kreatifitas.

Imajinasi anak berkembang seiring dengan berkembangnya kemampuan berbicara. Seperti bermain, dunia imajinasi juga merupakan dunia yang sangat dekat dengan dunia anak. imajinasi anak merupakan sarana bagi mereka untuk belajar memahami realitas keberadaa diri dan lingkungannya.

Imajinasi lahir dari proses mental yang manusiawi. Proses ini mendoorong semua kekuatan yang bersifat emosi untuk terlibat dan berperan aaktif dala merangsang pemikiran dan gagasan kreatif dan memberikaan energi pada tindakan kreatif . kemampuan imajinatif anak merupakan bagian dari aktifitas otak kanan yang bermanfaat untuk kecerdasaannya. Di masa balita, imajinasi merupakan bagian dari perkembangannya, sehingga anak sangat suka membayangkan sesuatu, mengembangkan khayalnya dan bercerita membagi ide- ide imajinatifnya kepada sekitarnya . bagi anak- anak, berimajinasi merupakan kebutuhan alamiahnya dan bukan bentuk kemalasan. Imajinasi anak bisa saja lahir sebagai hasil imitasi, meniru, dari tayanganyang ditontonnya/ pengaruh dari dongeeng dan cerita yang di dengarnya. Tapi, imajinasi juga dapat muncul secara murni dan orisinil dari dalam benaknya. Jika kita mampu mengasah, memngembangkan dn mengelola imajinasi anak, maka berimajinasi akan sangat bermanfaat dalam meningkatkan kecerdasan kreatifnya, membuat lebih produktif karena potensi dan kemampuan imajinatif anak merupkan proses awal tumbuh kembangnya daya cipta dalam diri anak yang dapat menghasilkan sebuah kreasi yang menarik dan bermanfaat untuk perkembangan kepribdiannya.

Doroty singer, seorang profesor psikoogi dari Yale University, berpendapat bahwa anak yang aktif berimajinasi cendrung lebih cerdas dan mudah untuk bersosialisasi saat berada di sekolah. Dengan berimajianasi, anak melibatkan kapasitas otaknya, sehingga kecerdasan otak lebih terasah.

Dalam berimajinasi, tentu saja anak sering memainkan peran sebagai tokoh tertentu yang tidak selalu sama, sehingga dalam realita sehari- hari, ia lebih mudah berkomunikasi , memerankan perannya yang berbeda- beda. Ia juga memiliki banyak cerita berkaitan dengan imajinasinya yang akan semakin memudahkannya berceloteh, ngobrol, dengan teman dan lingkungan sosialnya. Semua ini bisa membuat anak lebih mudah memecahkan persoalan karena ia akan memiliki sudut pandang yang berbeda atas suatu masalah berdasarkan pengalaman dan kemampuan imajinatifnya.

Berimajinasi membuat anak lebih aktif dan kreatif. Imajinasi akan menstimulasi gerak tubuh, emosi, dan kinerja otak anak untuk melakukan sebuah tindakan kreatif. Imajinasi membuat anak lebih kreatif dalam berfikir dan bertindak. Ia akan mencoba mengabalisa sesuaru dengan kemapuan imanjinasinya itu.

Dengan berimajinasi, ide-ide kreatif anak semakin bernunculan dan berkembang. Hal ini akan semakin mengasah dan mendorong rasa keingintahuannya. Keingitahuan yang besar akan mendorong mereka untuk mencari, menggali lebih dalam dan bereksperimen untuk memuaskan keingintahuanya tersebut. Semakin banyak yang digali dan dicoba, semakin kaya pula pengetahuannya. Proses menggali dan mencari ini bisa dilakukannya melalui kegiatan bermain an ragam permainan, membaca/ bertanya langsung .

Berpetualang di dunia imajinasi membuat anak merasa nyaman. Ketika ada dukungan dan dorongan untuk mengekspresikannya, ia akan merasa percaya diri. Kepercayaan diri akan membuat anak lebih siap dan mampu bersaing di lingkunagnnya karena secara tidak langsung keterlibatan emosi, gerak tubuh, dan kemapuan ortak dalam berimajinasi membekalinya kesiapan mental untuk bersaing.

Dengan berimajinasi, anak dapat menggali, mengangkat dan memunculkan bakatnya yang mungkin saja terpendam . berimajinai bisa membuat anak menemukan arto kenyamanan yang bermuara pada bakatnya, sehingga muncul dari imajinasinya tersebut adalah bakatnya sendiri.

Cara Mengembangkan Imajinasi Anak

  • Orang tua harus menjadi pendengar yang aik dan aktif terhadap imajinasi anak.

Orang tua memberikan respon yang baik dan aktif, menstimulasinya denagn pertanyaan keratif dan mendorongnya untuk berekspresi baik secara verbal/ non verbal.

  • Ajak anak bermain, karena bermain merupakan dunianya.

Biarkan anak bebas menentukan pilihan dan melakukan permainan tertentu sesuai keinginanya, asalkan sesuai dengan kemampuan berfikir dan fisiknya.

Bermain peran bisa menjadi pilihan peran bagi mereka. Bermain peran membantu perkembangan emosi anak dan memudahkan mereka bersosialisasi dengan lingkungannya.

  • Hindari terlalu banyak melarang anak, termasuk melarangnya menangis dan tertawa saat yang tepat karna larangan bisa saja menghambat imajinasi dan membatasi kreativitasnya.
  • Pendengaran musik yang sesuai denagn ritme jantung dan denyut nadi, bacakan buku cerita, komik/ dongeng dan dampingi anak bermain komputer dan belajar menulis karena semua hal itu nakan merangsang imajinasi anak untuk berkembang.
  • Ciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menyenagkan bgi anak

  1. Kemampuan manipulatif

Kemampuan anak menggunakan benda, alat/ media dalam bergerak. Alat/ media ini bisa diperlakukan dengan cara dilempar, diayun, diangkat, ditarik, digulirkan, dihentakkan/ dengan cara lainnya sehingga dapat mendukung kemampuan gerak yang diharapkan dapt dicapai/ dikuasai.

Tahap manipulasi meekankan pada perkembangan kem ampuan mengikuti pengarahan, penampilan gerakan- gerakan pilihan dan meetapkan suatu penampilan melalui latihan.

Contoh: memasukkan bola ke keranjang, melakukan smash atau melakukan gerakan senam yang di demonstrasikan.

Kemampuan manipulatif dikembangkan ketika anak telah menguasai macam- macam objek. Kemampuan manipulatif lebih banyak melibatkan tangan dan kaki, tapi bagian lain dari tubuh kita juga dapat digunakan.

Manipulasi obkek jauh lebih unggul daripada koordinasi mata-kaki, dan mata- tangan, yang mana koordinasi ini cukup penting unruk proses berjalan dalam ruang gerak . bentuk- bentuk kemapuan manipulatif terdiri dari gerakan menerima (menangkap) objek adalah kemapuan penting yang dapat diajarkan dengan menggunakan bola.

Alat permainan manipulatif.

Permainan manipulatif merupakan kegiatan yang berhubungan dengan gerakan dasar yang harus dikembangkan pada AUD. Permainan manipulatif lebih sering dilakukan diatas meja dengan alat- alat permainan yang disebut mainan meja (table toys) . contoh mainan meja:

  1. Papan jamur
  2. Bentuk geometris
  3. Papan lukis s
  4. Kuas
  5. Cat
  6. Puzzle
  7. Menara pelangi
  8. Kertas lipat berbagai ukuran dan warna

Alat – alat permainan manipulatif memberikan kesempatan pada anak untuk:

  1. Menyesuaikan bentuk dan warna
  2. Mengkombinasikan warna
  3. Melihat hubungan antara bentuk, ukuran, dan warna
  4. Mengkombinasikan bentuk
  5. Melihat hubungan antara bentuk, warna, dan ukuran.
  6. Membuka dan menutup, memasang, menyusun kembali
  7. Kesenangan Bermain

Dunia bermain adalah dunia anak. Melalui bermain anak dapat mempelajari banyak hal,tanpa ia sadari dan tanpa merasa terbebani. Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak,anak memperoleh kesempatan yang luas untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya, anak bebas mengekspresikan gagasannya memalui khayalan, drama, bermain konstruktif, dan sebagainya

Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya.

Selain itu kecerdasan mental,bahasa dan motorik anak juga dapat berkembang melalui kegiatan bermain. Bagi seorang anak kegiatan bermain bagi seorang anak jauh lebih efektif mencapai tujuan dibandingkan dengan proses pembelajaran instruksional dikelas.

Anak yang kreatif adalah anak yang suka bermain. Karena bermain adalah dunia anak dan dari bermain anak dapat mempelajari beberapa hal.

  1. Menunjukkan perhatian terhadap sesuatu aktifitas

Anak yang kreatif memiliki kepekaan yang tinggi responsive dan memiliki empati yang tinggi pula. Kreatifitas akan muncul pada individu yang memiliki motivasi tinggi rasa ingin tahu dan imajinasi. Seseorang yang kreatif akan selalu mencari jawaban dengan kata lain mereka senang memecahkan masalah. Hal ini terkait dengan kecerdasan interpersonal anak. Kecerdasan ini menuntut anak untuk memamhami bekerja sama dan berkomunikasi serta memelihara hubungan dengan orang lain. Anak ini tidak selalu menjadi pusat perhatian,mereka adalah pengamat yang baik berdiri tenang dan menepi,sementara tak satu hal pun yang luput dari pengamatan mereka. Anak yang kreatif biasanya adalah orang yang memiliki kemampuan

Mempengaruhi orang dengan baik. Ia memilki banyak cara untuk mencapai tujuan sekalipun dihadapi pada berbagai karakter,sifat, dan perilaku orang.

  1. Minat menguasai lingkungan

Kondisi lingkungan  di sekitar sangat berpengaruh besar dalam menumbuhkembangkan kreativitas. Kreativitas akan mati dan tidak berkembang dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Ayan (1997) menemukakan beberapa kondisi lingkungan yang harus diciptakan untuk menumbuhkan jiwa kreatif, antara lain

  1. Minat melakukan repetisi

  1. Kemampuan melakukan investigasi atau eksperimen

Melalui eksperimen sederhana anak-anak akan menemui hal-hal ajaib dan menakjubkan. Hal ini penting karena dengan rasa takjub dan kekaguman akan rahasia-rahasia alam inilah anak akan tetap menyukai aktivitas belajar sampai tua. Melalui eksperiman pula anak dapat menemukan ide-ide baru ataupun karya-karya baru yang belum pernah mereka temui sebelumnya.

Eksperimen (percobaan) yang dimaksud dalam hal ini bukanlah suatu preses rumit yang harus dikuasai anak sebagai suatu cara untuk memahami suatu konsep tentang sesuatu hal ataupun penguasaan anak tentang konsep dasr eksperimen,melainkan pada bagian mana mereka dapat mengetahui cara atau proses terjadinya sesuatu,dan mngapa sesuatu dapat terjadi serta bagaimana bagaimana cara mereka dapat menemukan solusi terhadap masalah yang ada dan pada akhirnya mereka dapat membuat sesuatu yang bermanfaat dari kegiatan tersebut. anak kreatif yang suka bereksperimen biasanya suka mengajukan pertanyaan diantaranya :

  1. Apa ini?

Dengan kata lain mengidentifikasi ciri atau karakteristik sesuatu baik benda yang hidup ataupun yang mati,yang ada dilingkungan mereka,bagaiman hal tersebut dapat berguna bagi kehidupan manusia,hal ini dapat dilakukan dengan cara mengklasifikasikan atau memberi label.

  1. Bagaimana itu bisa terjadi ?

Anak memperhatikan hubungan sebab akibat tentang sesuatu.

  1. Apa yang harus dilakukan agar hal tersebut dapat berubah

Anak melakukan uji coba sesuai dengan imajinasinya,sehingga benda yang diamati dapat berubah status.

  1. Kesenangan menceritakan pengalaman

Bahasa merupakan kegiatan berkomunikasi dengan orang lain. Disini fungsi utama pada anak-anak adalah: (1) meniru ucapan orang dewasa, (2) membayangkan situasi (terutama dialog), (3) mengatur permainan. Tiga fungsi kegiatan bahasa ini dapat dilakukan di Taman Kanak-kanak melalui kegiatan mendongeng, menceritakan kembali kisah yang telah didengarkan, berbagi pengalaman, sosiodrama ataupun mengarang cerita atau puisi. Dengan kegiatan tersebut diharapkan kreativitas dan kemampuan bahasa anak dapat terkembangkan lebih optimal.

  1. Kesenangan bertanya

Masa awal anak sangat diwarnai dengan aktifitas banyak bertanya. Segala sesuatu yang lama apalagi yang baru tidak luput dari pertanayaannya. Segala hal akan ia tanya. Jika kita tidak membuatnya berhenti mungkin ia tidak akan berhenti bertanya. Dapat kita lihat betapa antusiasnya anak dalam mengenali suatu objek. Ia akan bertanya tanpa lelah,tanpa malu tanpa takut dan tanpa henti. Ada masanya kebiasaan ini muncul pada tahap perkembangan anak,dan ada masanya berhenti dengan sendirinya. Yang berbahaya adalah kita yang membuatnya berhenti dengan sendirinya. Tidak hanya berhenti secara liasan namun juga berhenti bertanya dibenaknya. Ini dapat terjadi jika kita memberikan respon yang negative,mencela memarahi dan menyikapinya dengan kasar. Dengan respon negative dari lingkunganya anak akan merasa perilakunya tidak layak. Sehingga ia memilih tidak mengulanginya hingga tua. Inilah yang banyak terjadi disekitar kita. Dilembaga persekolahan dimulai dari SD sampai Perguruan tinggi para siswa sudah tidak suka bertanya,anak yang suka bertanya dianggap bodoh,sehingga mengganggu stabiltas kelas sehingga sebagian anak memilih diam. Padahal bertanya adalah kunci terbukanya ilmu pengetahuan. Tanpa keterampilan bertanya mustahil ilmu-ilmu baru dapat terungkap.

Sumber:

Rachmawati, Yenni. 2012. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-Kanak. Jakarta : Kencana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s