Ciri Ciri Umum Dan Tugas Perkembangan Anak Usia Dini

Standard

Ciri Ciri Umum Dan Tugas Perkembangan Anak Usia Dini

  1. Ciri ciri umum anak usia dini

Yang dimaksud dengan anak usia dini atau anak prasekolah adalah mereka yang berusia antara 0 sampai 6 tahun. Mereka biasanya mengikuti program prasekolah atau kindergarten. Sedangkan di Indonesia umumnya mereka mengikuti program tempat penitipan anak dan kelompok bermain (play group).

Sementara itu, menurut direktorat pendidikan anak usia dini, pengertian anak usia dini adalah anak usia 0 – 6 tahun, baik yang terlayani maupun yang tidak terlayani di lembaga pendidikan anak usia dini. Hal ini sesuai dengan ketentuan umum Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dari pengertian tersebut tergambar bahwa anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0 – 6 tahun. Hal ini sejalan dengan Undang-undang sistem pendidikan nasional no. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas pasal 28 ayat 1 yaitu pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Sedangkan jenjang pendidikan dasar dimulai pada usia 7 tahun.

Karakteristik Anak Usia Dini

Anak usia dini sering disebut sebagai golden age. Hal ini karena pada masa ini pondasi otak manusia sedang dibangun, pondasi yang kuat akan menghasilkan bangunan yang kuat dan tahan lama. Perkembangan anak pada tahap pra sekolah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu usia 2-3 tahun dan 4-6 tahun. Anak pada usia 2-3 tahun memiliki beberapa kesamaan karakteristik dengan masa bayi (0-2 tahun). Mereka pada umumnya memiliki cirri-ciri sebagai berikut :

  1. Secara fisik anak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat.
  2. Sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya, memiliki observasi yang tajam dan keinginan keinginan belajar yang kuat
  3. Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa, diawali dengan berceloteh
  4. Mulai belajar mengembangkan emosi yang didasarkan pada bagaimana lingkungan memperlakukan dia, sebab emosi bukan ditentukan oleh bawaan, namun lebih banyak pada lingkungan.

Sedangkan   menginjak  usia 4 – 6 tahun  karakteristik  anak umumnya menunjukkan:

  1. Perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan yang sangat bermanfaat untuk pengembangan otot-otot kecil maupun besar.
  2. Perkembangan bahasa sudah mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikirannya dalam batas-batas tertentu
  3. Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar.

Snowman mengemukakan ciri-ciri anak usia dini (3–6) tahun yang meliputi aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif anak. Keempat ciri-ciri tersebut dijelaskan sebagai berikut :

  1. Ciri fisik
  1. Anak pada umumnya sangat aktif. Mereka telah memiliki penguasaan (kontrol) terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukan sendiri. Berikan kesempatan pada anak untuk lari, memanjat dan melompat. Usahakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas sebanyak mungkin sesuai dengan kebutuhan anak dan selalu dibawah pengawasan guru.
  2. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan istirahat yang cukup. Seringkali anak tidak menyadari bahwa mereka harus beristirahat cukup. Jadwal aktifitas yang tenang diperlukan anak.
  3. Otot-otot besar pada anak usia dini lebih berkembang dari pada kontrol terhadap jari dan tangan. Oleh karena itu biasanya anak belum terampil melakukan kegiatan yang rumit seperti misalnya mengikat tali sepatu.
  4. Anak masih mengalami kesulitan bila harus menfokuskan pandangannya pada obyek-obyek yang ukurannya kecil. Itulah sebabnya koordinasi tangan kurang sempurna.
  5. Walaupun tubuh anak ini lentur, tetapi tengkorak kepala anak yang melindungi otak masih lunak.
  6. Anak perempuan lebih terampil dari pada anak laki-laki dalam mengerjakan tugas yang bersifat praktis, khususnya motorik halus.
  1. Ciri sosial
  1. Pada umumnya anak cepat menyesuaikan diri secara sosial memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti. Mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara sosial, mereka mau bermain dengan teman. Sahabat yang dipilih biasanya yang sama jenis kelaminnya, tetapi kemudian berkembang sahabat dari jenis kelamin yang berbeda.
  2. Kelompok bermainnya cenderung kecil dan tidak terlalu terorganisasi dengan baik. Oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti.
  3. Anak lebih mudah sering kali bermian bersebelahan dengan anak  yang lebih besar. Perselisihan sering terjadi namun dengan cepat kemudian berbaikan kembali.
  4. Telah menyadari peran jenis kelamin
  1. Ciri emosional
    1. Anak cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.
    2. Iri hati pada anak usia dini sering terjadi, sering memperebutkan perhatian guru.
  2. Ciri kognitif
    1. Anak pra sekolah umumnya terampil dalam berbahasa. Sebagian dari mereka senang berbicara, dan sebagian dari mereka juga dilatih untuk menjadi pendengar yang baik.
    2. Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang.

Ciri – ciri perkembangan secara umum yaitu :

  1. Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (perubahan berat badan dan organ organ tubuh) dan aspek psikis (matangnya kemampuan berpikir, mengingat, dan berkreasi)
  2. Terjadinya perubahan dalam proporsi; aspek fisik (proporsi tubuh anak beubah sesuai dengan fase perkembangannya) dan aspek psikis (perubahan imajinasi dari fantasi kerealitas)
  3. Lenyapnya tanda tanda yang lama; tanda – tanda fisik (lenyapnya kelenjar thymus (kelenjar anak anak) seiring bertambahnya usia aspek psikis (lenyapnya gerak gerik kanak kanak dan perilaku impulsif).
  4. Diperolehnya tanda tanda yang baru; tanda tanda fisik (pergantian gigi dan karakter seks pada usia remaja) tanda tanda psikis (berkembangnya rasa ingin tahu tentang pengetahuan, moral, interaksi dengan lawan jenis)

Menurut NAEYC (National Association for The Education of Young Children) adalah anak usia dni anak yang berada pada rentang usia 0 – 8 tahun, yang tercakup dalam program pendidikan di Taman Penitipan Anak, penitipan anak pada keluarga, pendidikan prasekolah baik itu swasta ataupun negeri, TK, dan SD. Untuk karakteristik anak usia dini bisa dilihat d bawah ini :

  1. Memiliki rasa ingin tahu yang besar

Anak usia dini sangat ingin tahu tentang dunia sekitarnya. Pada masa bayi rasa inign tahu ini ditunjukkan dengan meraih benda yang ada dalam jangkauannya kemudian memasukkannya ke mulutnya. Pada usia 3-4 tahun anak sering membongkar pasang segala sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Anak juga mula gemar bertanya meski dalam bahasa yang masih sangat sederhana.

  1. Merupakan pribadi yang unik

Meskipun banyak kesamaan dalam pola umum perkembangan anak usia dini, setiap anak memiliki kekhasan tersendiri dalam hal bakat, minat, gaya belajar, dan sebagainya. Keunikan ini berasal dari faktor genetis dan juga lingkungan. Untuk itu pendidik perlu menerapkan pendekatan individual dalam menangani anak usia dini.

  1. Suka berfantasi dan berimajinasi.

Fantasi adalah kemampuan membentuk tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan yang sudah ada. Imajinasi adalah kemampuan anak untuk menciptakan obyek atau kejadian tanpa didukung data yang nyata (Siti Aisyah, 2008).

Anak usia dini sangat suka membayangkan dan mengembangkan berbagai hal jauh melampaui kondisi nyata. Bahkan terkadang mereka dapat menciptakan adanya teman imajiner. Teman imajiner itu bisa berupa orang, benda, atau pun hewan.

  1. Masa paling potensial untuk belajar

Masa itu sering juga disebut sebagai “golden age” atau usia emas. Karena pada rentang usia itu anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat di berbagai aspek. Pendidik perlu memberikan berbagai stimulasi yang tepat agar masa peka ini tidak terlewatkan begitu saja. Tetapi mengisinya dengan hal-hal yang dapat mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

  1. Menunjukkan sikap egosentris.

Pada usia ini anak memandang segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Anak cenderung mengabaikan sudut pandang orang lain. Hal itu terlhat dari perilaku anak yang masih suka berebut mainan, menangis atau merengek sampai keinginannya terpenuhi.

  1. Memiliki rentang daya konsentrasi yang pendek.

Anak usia dini memiliki rentang perhatian yang sangat pendek. Pehatian anak akan mudah teralih pada hal lain terutama yang menarik perhatiannya. Sebagai pendidik dalam menyampaikan pembelajaran hendaknya memperhatikan hal ini.

  1. Sebagai bagian dari makhluk sosial.

Anak usia dini mulai suka bergaul dan bermain dengan teman sebayanya. Ia mulai belajar berbagi, mau menunggu giliran, dan mengalah terhadap temannya. Melalui interaksi sosial ini anak membentuk konsep dirinya. Ia mulai belajar bagaimana caranya agar ia bisa diterima lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini anak mulai belajr untuk berperilaku sesuai tuntutan dari lingkungan sosialnya karena ia mulai merasa membutuhkan orang lain dalam kehidupannya

  1. Tugas tugas perkembangan
    1. Hakikat tugas perkembangan

Tugas-tugas perkembangan yaitu tugas-tugas yang harus dilakukan atau dikuasai oleh seseorang dalam masa-masa atau usia tertentu sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat dan kebudayaan tertentu agar dapat hidup bahagia dan mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangan berikutnya. Robert Havighurst (Adam & Gullota, 1983) melalui perspektif psikososial berpendapat bahwa periode yang beragam dalam kehidupan individu menuntut untuk menuntaskan tugas-tugas perkembangan yang khusus. Tugas-tugas ini berkaitan erat dengan perubahan kematangan, persekolahan, pekerjaan pengalaman beragama, dan hal lainnya sebagai persyaratan untuk pemenuhan kebahagiaan hidupnya.

Selanjutnya Robert J. Havighurst (Syamsu Yusuf, 2008 : 65) mengartikan tugas-tugas perkembangan itu sebagai berikut “A developmental task is a task which arises at or about a certain period in the life of the individual, successful achievement of which leads to his happiness and to success with later task. While failure leads to un happiness in the individual, disapproval by society, and difficulty with later task”.

Maksudnya, bahwa tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam menuntaskan tugas berikutnya, sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya.

Yusuf (2008:66) tugas-tugas perkembangan ini berkaitan dengan sikap, perilaku, atau keterampilan yang seyogyanya dimiliki oleh individu, sesuai dengan usia atau fase perkembangannya. Hurlock (1981) menyebutkan tugas-tugas perkembangan ini sebagai social expectations. Dalam arti, setiap kelompok budaya mengharapkan anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan.

Pada setiap masa perkembangan individu, ada berbagai tugas perkembangan yang harus dikuasai, adapun tugas perkembangan masa kanak-kanak menurut Carolyn Triyon dan J. W. Lilienthal (Hildebrand, 1986 : 45) adalah sebagai berikut :

  1. Berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Anak belajar untuk berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dapat memenuhi segala kebutuhannya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangannya di usia Taman Kanak-kanak.
  2. Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang. Pada masa Taman Kanak-kanak ini anak belajar untuk dapat hidup dalam lingkungan yang lebih luas yang tidak hanya terbatas pada lingkungan keluarga saja, dalam masa ini anak belajar untuk dapat saling memberi dan berbagi dan belajar memperoleh kasih sayang dari sesama dalam lingkungannya.
  3. Belajar bergaul dengan anak lain. Anak belajar mengembangkan kemampuannya untuk dapat bergaul dan berinteraksi dengan anak lain dalam lingkungan di luar lingkungan keluarga.
  4. Mengembangkan pengendalian diri. Pada masa ini anak belajar untuk bertingkah laku sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Anak belajar untuk mampu mengendalikan dirinya dalam berhubungan dengan orang lain. Pada masa ini anak juga perlu menyadari bahwa apa yang dilakukannya akan menimbulkan konsekuensi yang harus dihadapinya.
  5. Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat. Anak belajar bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ada berbagai jenis pekerjaan yang dapat dilakukan yang dapat menghasilkan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya dan dapat menghasilkan jasa bagi orang lain. Contoh, seorang dokter mengobati orang sakit, guru mengajar anak-anak di kelas, pak polisi mengatur lalu lintas, dan lain sebagainya.
  6. Belajar untuk mengenal tubuh masing-masing. Pada masa ini anak perlu mengetahui berbagai anggota tubuhnya, apa fungsinya dan bagaimana penggunaannya. Contoh, mulut untuk makan dan berbicara, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat dan sebagainya.
  7. Belajar menguasai ketrampilan motorik halus dan kasar. Anak belajar mengkoordinasikan otot-otot yang ada pada tubuhnya, baik otot kasar maupun otot halus. Kegiatan yang memerlukan koordinasi otot kasar diantaranya berlari, melompat, menendang, menangkap bola dan sebagainya. Sedangkan kegiatan yang memerlukan koordinasi otot halus adalah pekerjaan melipat, menggambar, meronce dan sebagainya.
  8. Belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan. Pada masa ini diharapkan anak mampu mengenal benda-benda yang ada di lingkungan, dan dapat menggunakannya secara tepat. Contoh, anak belajar mengenal ciri-ciri benda berdasarkan ukuran, bentuk, dan warnanya. Selain dari itu, anak dapat membandingkan satu benda dengan benda lain berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki benda tersebut.
  9. Belajar menguasai kata-kata baru untuk memahami anak/orang lain. Anak belajar menguasai berbagai kata-kata baru baik yang berkaitan dengan benda-benda yang ada di sekitarnya, maupun berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh, anak dapat menyebutkan nama suatu benda, atau mengajak anak lain untuk bermain, dan sebagainya.
  10. Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan. Pada masa ini anak belajar mengembangkan perasaan kasih sayang terhadap apa-apa yang ada dalam lingkungan, seperti pada teman sebaya, saudara, binatang kesayangan atau pada benda-benda yang dimilikinya.

Pada masa pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun masa taman kanak-kanak anak akan cenderung melakukan pembelajaran seperti yang telah disebutkan diatas. Untuk itulah sebagai pendidik anda harus bisa menyesuaikan tugas-tugas dalam periode perkembangan anak ini, hal itu dimaksudkan agar proses pembelajaran anak bisa berjalan efektif dan efisien.

Secara rinci tugas perkembangan mansia dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu sebagai berikut

  1. Neonatus (lahir –28 hari)
  2. Bayi (1 bulan –1 tahun)
  3. Toddler (1-3 tahun)
  4. Pra sekolah (3-6 tahun)
  5. Usia sekolah (6 -12 tahun)
  6. Remaja (12 – 18/20 tahun)
  7. Dewasa muda (20-40 tahun)
  8. Dewasa menengah (40 -65 tahun)
  9. Dewasa tua

Keempat tahapan perkembangan anak usia dini tersebut (neonates sampai pra sekolah) dapat diuraikan menjadi:

  1. Neonatus (lahir-28 hari)

Pada tahap ini, perkembangan neonatus sangat memungkinkan untuk dikembangkan sesuai keinginan. Implikasinya adalah membantu orang tua untuk mengidentifikasi dan menemukan kebutuhan yang tidak ditemukan.

  1. Bayi (1 bulan- 1 tahun)

Pada tahap ini, tumbuh kem bang terbagi menjadi 4tahap perkembangan, yaitu

  • bayi usia (0-3 bulan)
    • Mengangkat kepala
    • Mengikuti obyek dengan mata
    • Melihat dengan tersenyum
    • Bereaksi terhadap suara atau bunyi
    • Mengenal ibunya dengan penglihatan, penciuman, pendengaran dan kontak
    • Menahan barang yang dipegangnya
    • Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh
  • Bayi usia 3 -6 bulan
    • Mengangkat kepala sampai 90°
    • Mengangkat dada dengan bertopang tangan
    • Belajar meraih benda-benda yang ada dalamjangkauannya atau diluar jangkauannya
    • Menaruh benda-benda di mulutnya
    • Berusaha memperluas lapang pandang
    • Tertawa dan menjerit karena gembira bila diajak bermain
    • Mulai berusaha mencari benda-benda yanghilang
  • Bayi usia 6-9 bulan
    • Duduk tanpa dibantu
    • Tengkurap dan berbalik sendiri
    • Merangkak meraih benda atau mendekatiseseorang
    • Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain
    • Memegang benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk
    • Bergembira dengan melempar benda – benda
    • Mengeluarkan kata -kata tanpa arti
    • Mengenal muka anggota keluarga dan takut pada orang lain
    • Mulai berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan
  • Bayi usia 9-12 bulan
    • Berdiri sendiri tanpa dibantu
    • Berjalan dengan dituntun
    • Menirukan suara
    • Mengulang bunyi yang didengarnya
    • Belajar menyatakan satu atau dua kata
    • Mengerti perintah sederhana atau larangan
    • Minat yang besar dalam mengeksplorasi sekitarnya
    • Ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda-benda ke mulutnya
    • Berpartisipasi dalam permainan
  1. Toddler (1-3 tahun)

Pada usia ini terjadi peningkatan kemampuan psikososial dan perkembangan motorik, baik motorik halus maupun kasar. Tahap ini terbagi menjadi 3 tahap perkembangan, yaitu

  • Usia 12-18 bulan
    • Mulai mampu berjalan dan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah
    • Menyusun 2 atau 3 kotak
    • Dapat mengatakan 5-10kata
    • Memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing
  • Usia 18 – 24 bulan
    • Mampu naik turun tangga
    • Menyusun 6 kotak
    • Menunjuk mata dan hidungnya
    • Menyusun dua kata
    • Belajar makan sendiri
    • Menggambar garis di kertas atau pasir
    • Mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil
    • Menaruh minat kepada apa yang dikerjakan oleh orang yang lebih besar
    • Memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain – main dengan mereka
  • Usia 2-3 tahun
    • Anak belajar meloncat, melompat dengan satu kaki
    • Membuat jembatan dengan 3 kotak
    • Mampu menyusun kalimat
    • Mempergunakan kata – kata saya
    • Bertanya
    • Mengerti kata kata yang ditujukan kepadanya
    • Menggambar lingkaran
    • Bermain dengan anak lain
    • Menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya
  1. pra sekolah 3-6 tahun

Pada masa pra sekolah pertumbuhan fisik lebih lambat. Ketika sedang bermain anak mencoba pengalaman baru dan peran sosial. Tahap ini terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu:

  • Anak usia 3-4 tahun
    • Berjalan- jalan sendiri mengunjungi tetangga
    • Berjalan pada jari kaki
    • Belajar berpakaian dan membuka pakaian sendiri
    • Menggambar garis silang
    • Menggambar orang (hanya kepala dan badan)
    • Mengenal 2 atau 3 warna
    • Bicara dengan baik
    • Bertanya bagaimana anak dilahirkan
    • Mendengarkan cerita cerita
    • Bermain dengan anak lain
    • Menunjukkan rasa sayang kepada saudara saudaranya
    • Dapat melaksanakan tugas tugas sederhana
  • Anak usia 4-5 tahun
    • Mampu melompat dan menari
    • Menggambar orang terdiri dari kepala, lengan dan badan
    • Dapat menghitung jari -jarinya
    • Mendengar dan mengulang hal-hal penting dan cerita
    • Minat kepada kata baru dan artinya
    • Memprotes bila dilarang apa yang diinginkannya
    • Membedakan besar dan kecil
    • Menaruh minat kepada aktivitas orang dewasa
  • Anak usia 6 tahun
    • Ketangkasan meningkat
    • Melompat tali
    • Bermain sepeda
    • Menguraikan objek -objek dengan gambar
    • Mengetahui kanan dan kiri
    • Memperlihatkan tempertantrum
    • Mungkin menentang dan tidak sopan
  1. Fungsi tugas perkembangan anak usia dini bagi guru dan orang tua

Fungsi tugas perkembangan anak bagi guru khususnya di sekolah adalah agar guru bisa memberikan kegiatan yang sesuai dengan perkembangan anak dan perkembangan anak bisa meningkat kearah perkembangan yang lebih kompleks. Fungsi tugas perkembangan ini sangat menentukan perkembangan selanjutnya bagi anak. Dan guru bisa memberikan rangsangan sesuai dengan arah perkembangan anak.

Begitu juga dengan orang tua, fungsi tugas perkembangan anak sangat penting bagi orang tua dalam memberikan tugas-tugas ataupun kegiatan yang sesuai dengan perkembangan anak. Sehingga anak bisa berkembang secara optimal.

  1. Peran guru dan orang tua dalam membantu mencapai tugas perkembangannya
    1. Peran orang tua

Bagi anak, orang tua (ayah ibu) merupakan figur orang dewasa pertama yang dikenal anak sejak bayi. Selain kedekatan karena faktor biologis, anak biasanya cukup dekat dengan ayah ibunya karena hampir seluruh hidupnya dekat dan dihabiskan bersama orangtuanya. Oleh karena itu, ayah ibu meniliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak.

Widyawati (http://www.sahabatnestle.co.id) memberikan beberapa petunjuk bagi orangtua untuk mengembangkan kemampuan anak, yaitu:

  1. memperlakukan anak sesuai dengan karakteristik anak dan memahami bahwa setiap anak bersifat unik;
  2. memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti kebutuhan kasih sayang, pemberian makanan bernutrisi, rasa aman, dan nyaman;
  3. memperhatikan pola pendidikan yang diajarkan oleh guru di sekolah anak dan mencoba menyelaraskan pola tersebut dengan pola pendidikan di rumah;
  4. memberikan dukungan dan penghargaan ketika anak menampilkan perilaku yang terpuji;
  5. memberikan fasilitas lingkungan yang sesuai dengan usia perkembangannya,
  6. bersikap tegas dan konsisten.

Peran orangtua dalam membantu anak dalam mencapai Tugas Perkembanganya

  1. Fase oral (mulut)

Pada periode ini peran orang tua yang dibutuhkan anak adalah pemberian kasih sayang dengan menyusui dan membelai atau mengusap. Anak merasakan nikmat dan kenyamanan kalau bibirnya disentuh oleh payudara ibunya yag lembut dan hangat, dibelai dengan penuh kasih sayang oleh tangan dan kulit ibunya yang halus. Sentuhan dan belaian ini akan menimbulkan kesan kejiwaan nyaman, tentram, dan damai dan persaan dilindungi.

Erik Erikson (1960) mengemukakan bahwa anak yang mengalami kesan kepuasan seperti ini memiliki keyakinan dasar yang benar dan bagus tentang dunia (basic trust). Sebaliknya anak yang tidak disusui, sedikit sekali disentuh dan dibelai dan miskin kasih sayang akan memilki kesan kejiwaan yang negative tentang kehidupan ini. Anak merasa diabaikan, tidak dilindungi, tidak aman dan ini menjadi sumber kekecewaan dalam menghadapi kehidupan. Anak menghayati dunia sebagai keadaan yang kejam, tidak menyenangkan dan tidak aman sehingga dalam menghadapi kehidupan selalu curiga, cemas, dan perasaan tidak tentram.

  1. Fase anal (anus)

Dalam fase ini peran orangtua yang diharapkan untuk anak adalah melatih anak buang air yang tertib. Anak-anak dilatih buang air pada tempat yang pantas, lebih penting lagi menciptakan suasana hati yang tenang dan tentram selama buang air. Erikson memperingatkan orangtua agar tidak melakukan latihan-latihan buang air dengan disiplin yang keras, karena dapat menimbulkan krisis kejiwaan pada masa ini dan setelah dewasa nantinya ia akan menjadi orang dewasa yang suka memaksa.

  1. Fase phallic (kelamin)

Pada fase ini uapaya yang dilakukan orangtua adalah:

  1. Orangtua yang dijadikan saingan (rival) hendaknya tetap menunjukkan sayang dan perhatian yang dalam terhadap anaknya. Jauhilah sifat bermusuhan terhadap anak, sehingga anak selalu mendapat kesan bahwa orangtuanya yang dijadikannya saingan, tetap baik dan menyayanginya.
  2. Antara kedua orangtua hendaknya menampakkan saling menyayangi, saling menghormati dan saling menonjolkan kebaikan pihak lain. Dalam hal ini misalnya ibu hendaknya selalu membanggakan ayah didepan anak laki-lakinya begitupun sebaliknya.
  1. Fase laten

Pada fase ini peran orangtua yang diharapkan adalah memberi kesempatan dan menyokong berbagai ide anak untuk berbuat sesuatu sampai berhasil. Orangtua hendaknya memberikan kesempatan kepada anak untuk berkarya. Hubungan anak yang beralih kepada teman sebaya hendaknya di pupuk oleh orangtua dengan mendekati dan mengakrapi teman sebaya anak-anaknya. Perkembangan moral anak dikembangkan dengan memberikan contoh dari orangtua dan melaksanakan disiplin secara induktif. Disiplin dengan cara induktif maksudnya memberikan larangan dengan alas an-alasan mengapa ia boleh, atau tidak boleh melakukan sesuatu.

  1. Peran guru

Dalam psikologi belajar, proses berarti cara-cara atau langkah-langkah khusus yang dengannya beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya hasil-hasil tertentu. Jadi dapat diartikan proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri anak. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya. Guru adalah pihak utama yang langsung berhubungan dengan anak dalam upaya proses pembelajaran, peran guru itu tidak terlepas dari keberadaan kurikulum. Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55). Di Indonesia pembelajaran pendidikan prasekolah lebih bersifat akademik, di mana anak lebih banyak duduk di bangku dan harus tertib seperti di sekolah. Jarang guru memberikan kesempatan kepada anak untuk berksplorasi, mengekspresikan perasaannya, dan melakukan sendiri apa yang mereka minati, sampai menemukan pemecahan masalah sendiri.

Ada beberapa pendekatan peran guru dalam pembelajaran, antara lain

  1. Guru berperan sebagai pengajar. Dalam hal ini guru harus mengajar sesuai dengan kurikulum tanpa melihat minat anak. Semua anak dianggap botol kosong yang harus diisi oleh berbagai informasi tanpa melihat perbedaan bahkan meski anak tidak berminat pun guru harus tetap menyampaikan apa yang sudah dugariskan dalam kurikulum tersebut.
  2. Guru berperan membelajarkan anak. Pada pendekatan ini guru berpegang pada panduan kemampuan yang akan dicapai anak dengan cara memahami minat, perasaan dan pengalaman anak. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan pengalaman, perasaannya melalui berbagai interaksi kepada guru maupun teman sebaya. Dalam hal ini anak dapat dengan leluasa mengekspresikan apa saja yanga ada dalam pikirannya Pendekatan semacam ini merupakan pendekatan yang efektif dan terbaik karena anak dapat berkembang secara utuh (Tini Sumartini, 2005 :47)

Daftar pustaka

Desmita. 2010. Psikologi perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Ramli, M. 2005. Pendampingan Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional

http://pgalvihidayah.wordpress.com/anak-usia-dini/

http://lailatur-rahmah.blogspot.com/2011/05/psikologi-perkembangan-ciri-ciri-dan.html

http://paudbook.blogspot.com/2012/01/tugas-tugas-perkembangan-anak-usia-dini.html

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/artikel-utk-p4tk-sb.pdf

http://tatangjm.wordpress.com/peran-guru-dalam-paud/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s