CARA-CARA PENGEMBANGAN AGAMA DAN MORAL SERTA CARA MENGEMBANGKAN DISIPLIN DAN EMOSI

Standard

Cara-Cara Pengembangan Agama Dan Moral

  1. Cara menanamkan moral pada anak usia dini

            Ada 3 strategi dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia dini, yaitu: strategi latihan dan pembiasaan, Strategi aktivitas dan bermain, dan Strategi pembelajaran (Wantah, 2005: 109).

  1. Strategi Latihan dan Pembiasaan

Latihan dan pembiasaan merupakan strategi yang efektif untuk membentuk perilaku tertentu pada anak-anak, termasuk perilaku moral. Dengan latihan dan pembiasaan terbentuklah perilaku yang bersifat relatif menetap. Misalnya, jika anak dibiasakan untuk menghormati anak yang lebih tua atau orang dewasa lainnya, maka anak memiliki kebiasaan yang baik, yaitu selalu menghormati kakaknya atau orang tuanya.

  1. Strategi Aktivitas Bermain

Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan oleh setiap anak dapat digunakan dan dikelola untuk pengembangan perilaku moral pada anak. Menurut hasil penelitian Piaget (dalam Wantah, 2005: 116), menunjukkan bahwa perkembangan perilaku moral anak usia dini terjadi melalui kegiatan bermain. Pada mulanya anak bermain sendiri tanpa dengan menggunakan mainan. Setelah itu anak bermain menggunakan mainan namun dilakukan sendiri. Kemudian anak bermain bersama temannya bersama temannya namun belum mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Selanjutnya anak bermain bersama dengan teman-temannya berdasarkan aturan yang berlaku.

  1. Strategi Pembelajaran

Usaha pengembangan moral anak usia dini dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran moral. Pendidikan moral dapat disamakan dengan pembelajaran nilai-nilai dan pengembangan watak yang diharapkan dapat dimanifestasikan dalam diri dan perilaku seseorang seperti kejujuran, keberanian, persahabatan, dan penghargaan (Wantah, 2005: 123).

            Pembelajaran moral dalam konteks ini tidak semata-mata sebagai suatu situasi seperti yang terjadi dalam kelas-kelas belajar formal di sekolah, apalagi pembelajaran ini ditujukan pada anak-anak usia dini dengan cirri utamanya senang bermain. Dari segi tahapan perkembangan moral, strategi pembelajaran moral berbeda orientasinya antara tahapan yang satu dengan lainnya. Pada anak usia 0 – 2 tahun pembelajaran lebih banyak berorientasi pada latihan aktivitas motorik dan pemenuhan kebutuhan anak secara proporsional. Pada anak usia antara 2 – 4 tahun pembelajaran moral lebih diarahkan pada pembentukan rasa kemandirian anak dalam memasuki dan menghadapi lingkungan. Untuk anak usia 4 – 6 tahun strategi pembelajaran moral diarahkan pada pembentukan inisiatif anak untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan perilaku baik dan buruk.

            Secara umum ada berbagai teknik yang dapat diterapkan untuk mengembangkan moral anak usia dini. Menurut Wantah (2005: 129) teknik-teknik dimaksud adalah:

  • Membiarkan,
  • Tidak Menghiraukan
  • Memberikan Contoh (Modelling)
  • Mengalihkan Arah (Redirecting)
  • Memuji
  • Mengajak
  • Menantang (Challanging)

            Beberapa cara yang dilakukan orang tua untuk mengasah kecerdasan spiritual anak adalah sebagai berikut:

  • Memberi contoh

Anak usia dini mempunyai sifat suka meniru . karena orang tua merupakan lingkungan pertama yang ditemui anak, maka ia cenderung meniru apa yang diperbuat oleh orang tuanya. Di sinilah peran orang tua untuk memberikan contoh yang baik bagi anak, misalnya mengajak anak untuk ikut berdoa. Tatkala sudah waktunya shalat, ajaklah anak untuk segera mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat. Ajari shalat berjamaah dan membaca surat-surat pendek al-Qur’an dan Hadis-hadis pendek.

  • Melibatkan anak menolong orang lain.

Anak usia dini diajak untuk beranjangsana ke tempat orang yang membutuhkan pertolongan. Anak disuruh menyerahkan sendiri bantuan kepada yang membutuhkan, dengan demikian anak akan memiliki jiwa sosial.

  • Bercerita serial keagamaan

Bagi orang tua yang mempunyai hobi bercerita, luangkan waktu sejenak untuk meninabobokan anak dengan cerita kepahlawanan atau serial keagamaan. Selain memberikan rasa senang pada anak, juga menanamkan nilai-nilai kepahlawanan atau keagamaan pada anak dan konsisten dalam mengajarkannya. Dalam mengajarkan nilai-nilai spiritual pada anak diperlukan kesabaran, tidak semua yang kita lakukan berhasil pada saat itu juga, adakalanya memerlukan waktu yang lama dan berulang.

  1. Cara menanamkan agama pada anak usia dini

            Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya The Development of Religious on Children, ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu:

  1. The fairy tale stage (tingkat dongeng)

Pada tingkatan ini dimulai pada anak usia 3-6 tahun. Pada anak dalam tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi. Pada tingkatan ini anak menghayati konsep ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan pada masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agama pun anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng yang kurang masuk akal.

  1. The realistic stage (tingkat kenyataan)

Tingkat ini dimulai sejak anak masuk SD hingga sampai ke usia (masa usia) adolesense. Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. pada masa ini ide keagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis.

  1. The Individual stage (tingkat individu)

Anak pada tingkat ini memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Ada beberapa alasan mengenalkan nilai-nilai agama kepada anak usia dini, yaitu anak mulai punya minat, semua perilaku anak membentuk suatu pola perilaku, mengasah potensi positif diri, sebagai individu, makhluk social dan hamba Allah. Agar minat anak tumbuh subur, harus dilatih dengan cara yang menyenangkan agar anak tidak merasa terpaksa dalam melakukan kegiatan

 

 

 

 

Cara Mengembangkan Disiplin Dan Emosi

 

  1. Menanamkan disiplin dan pembiasaan pada anak usia dini

         

          Tidak hanya orang dewasa, sifat disiplin sangat penting ditanamkan pada anak-anak sedini mungkin. Mumgkin di usia anak-anak yang masih belum mempunyai tanggung jawab yang besar, kedisiplinan bukanlah hal yang penting. Namun bila sifat disiplin tersebut ditanamkan kepada buah hati kita sejak masa kanak-kanak, tentu akan menjadi sebuah modal yang sangat berharga bagi buah hati kita kala dewasa kelak. Namun menanamkan sifat disiplin bagi anak-anak tentu bukanlah hal yang mudah. Membutuhkan sebuah pembiasaan dan ketekunan, dan tentunya dengan bantuan dari orang tua.

            Sebagai orang tua yang menginginkan buah hatinya menjadi anak yang disiplin, sifat disiplin itu sendiri harus tertanam di dalam hati orang tua. Dengan kata lain, semua harus dimulai dari orang tua, yang nantinya akan ditransfer atau diajarkan kepada anak. Adalah hal yang sia-sia bagi kita, orang tua yang menginginkan buah hatinya menjadi anak yang disiplin, namun kita sendiri kurang disiplin.

            isiplin sangat erat hubungannya dengan tanggung jawab dan peraturan. Tanggungjawab kita dengan buah hati kita tentu berbeda. Namun di dalam menaati peraturan, tentu sangat membutuhkan keselarasan. Orang tua dan anak harus menaati peraturan atau norma yang berlaku di tengah keluarga. Norma dan peraturan di dalam sebuah keluarga, tentu akan berbeda antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Oleh karena itu, orang tua harus bertanggungjawab secara penuh dalam mendidik anak agar menaati peraturan atau norma di dalam keluarga kita masing-masing.

            Menanamkan sifat disiplin kepada anak, harus dimulai dari hal-hal yang kecil. Kita sebagai orang tua, atau sebagai orang yang lebih dewasa tentu harus peka dalam hal ini. Mungkin kita bisa memulainya dengan cara membuatkan jadwal makan, tidur, mandi, dan aktivitas-aktivitas yang lain. Hal ini sangat penting agar buah hati kita belajar bagaimana cara mengahargai waktu dan menaati peraturan. Mungkin bagi kita bukanlah hal yang terlalu bermasalah saat kita membelanjakan uang yang kita miliki sesuai dengan keinginan kita. Namun bila kita ingin buah hati kita menjadi anak yang disiplin dalam hal membelanjakan uang, tentu kita pun harus memiliki kedisiplinan dalam hal yang sama.

            Kita tidak boleh membelanjakan uang yang kita punya, untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak bermanfaat bagi keluarga kita, terutama di depan buah hati kita. Sehingga pada saat buah hati kita bertanya,”Ma… Kenapa kita harus beli tanaman yang harganya mahal itu?” Kita pun bisa menjawabnya dengan alasan yang logis dan bisa diterima buah hati kita. Misalnya,”Supaya ruang tamu kita bisa menjadi lebih indah, selain itu tanaman ini kan harganya bisa mejadi lebih mahal dari tahun ketahun, jadi nanti bisa dijual lagi. Nanti uangnya bisa ditabung.” Jangan sampai kita menjawab asal-asalan, misalnya hanya untuk seneng-seneng atau hanya untuk gengsi semata. Sehingga buah hati kita pun akan mengerti bagaimana dia harus mendisiplinkan diri dalam membelanjakan uang saku yang mereka punya.

            Lalu apa tindakan kita bila menemukan buah hati kita melakukan hal-hal yang tidak disiplin? Dalam hal ini, kita harus cerdas dalam menentukan konsekuensi yang harus diterima oleh buah hati kita. Saya mengganti kata hukuman dengan konsekuensi, karena konsekuensi adalah suatu hal yang harus diterima dari sebuah perbuatan atau aksi. Dan tujuan dari konsekuesi adalah untuk mendidik dan mendisiplinkan, bukan hanya untuk menakuti-nakuti seperti halnya hukuman. Jadi sebelum konsekuensi tersebut kita berikan kepada buah hati kita, alangkah lebih baik bila kita memperingatkan buah hati kita terlebih dahulu. Misalnya pada saat buah hati kita membelanjakan uangnya secara sembarangan, maka bila kita mengetahuinya kita wajib memperingatkan terlebih dahulu, dan baru memberikan sebuah konsekuensi setelah buah hati kita melakukan kesalahan yang sama.

            Dalam kasus ini, bila buah hati kita membelanjakan uangnya secara sembarangan, kita bisa memberikan konsekuensi kepada buah hati kita, misalnya dengan cara tidak memberikan uang jajan selama dua hari. Ada konsekuensi pada saat berbuat tidak baik, tentu harus ada juga konsekuensi pada saat buah hati melakukan hal yang baik. Nah… Jadi misalnya buah hati kita sudah pandai cara menggunakan uang, jangan lupa untuk memberikan konsekuensi berupa hadiah. Kalau soal hadiah, tentu anda sendiri yang lebih mengerti segala keinginan buah hati anda sendiri.

            Tentu masih banyak disiplin-disiplin yang lain, yang boleh kita tanamkan di dalam jiwa buah hati kita, misalnya disiplin waktu, disiplin belajar, disiplin bermain, dan masih banyak lagi. Kita sebagai orang tua, harus cermat dalam mengajarkan nilai-nilai kedisplinan tersebut kepada buah hati kita. Dan tentunya dengan mengajarkan kedisiplinan kepada buah hati kita, kita pasti juga akan banyak belajar bagaimana menjadi orang yang disiplin. Karena kita tidak akan sukses dalam mengajarkan kedisiplinan kepada buah hati kita, bila kita sendiri tidak disiplin. Oleh karena itu… Marilah kita menjadi orang yang disiplin agar buah hati kita pun menjadi anak yang disiplin.

Daftar Pustaka

Einstein,multazam.2013.mengembangkan aspek moral dan nilai.diakses pada 04 september 2013 (http://multazam-einstein.blogspot.com/2013/04/mengembangkan-aspek-moral-dan-nilai.html)

Zepe.2010.menanamkan sifat disiplin pada anak.diakses pada 04 september 2013 (http://lagu2anak.blogspot.com/2010/12/menanamkan-sifat-disiplin-pada-anak.html)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s