Aside

Pengembangan Kemampuan Membina Hubungan Dengan Orang Lain

Kemampuan membina hubungan adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain, sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul dan menjadi lebih populer.Kemampuan membina hubungan ini mulai tumbuh ketika anak mencapai tahap perkembangan operasional kongkrit. Kehadiran teman sebaya sangat berarti bagi mereka, oleh karena itu keinginan untuk membina hubungan dengan teman dapat memotivasi anak mengembangkan kecerdasan emosional dalam hal membina hubungan dengan orang lain.

Agar lima wilayah kecerdasan emosional yang dikenalkan pada anak bisa tersampaikan dengan baik, perlu juga didukung dengan kemampuan kecerdasan emosional orang tua maupun guru. Para orang tua dan guru adalah orang terdekat anak-anak, oleh karena itu mereka perlu memberikan teladan terlebih dahulu agar anak yang mempunyai potensi luar biasa bisa mempelajari keterampilanemosional dari orang-orang dewasa terdekatnya secara lebih baik.

 

A.Latihan berkomunikasi yang membahagiakan orang lain.

Komunikasi secara etimologis atau menurut akar katanya adalah comonis, tetapi bukan berarti komunis dalam kegiatan politik.Jadi, komunikasi berlangsung bila antara orang-orang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan.

Komunikasi adalah proses ganda, dimana dalam berinteraksi apa yang kita bicarakan dan ucapkan, akan memiliki pengaruh baik pada kita maupun orang yang kita ajak bicara.  Jika anak-anak berbicara sesuatu yang positif dan mendorong orang lain, mereka akan mendapatkan sesuatu yang positif sebagai balasannya.  Ini berarti bahwa kita mendapatkan kembali apa yang kita ucapkan atau bicarakan; kata-kata buruk, bicara yang tidak benar atau kasar akan memantul kembali pada kita.

Anak belajar berkomunikasi adalah dengan menirukan bagaimana orang lain berbicara dan berinteraksi. Anak-anak selalu mengamati bagaimana orang tua mereka, saudara-saudarinya, keluarga atau lingkungannya berbicara dan berkomunikasi.  Dalam banyak kasus, seni komunikasi datang secara alami kepada anak-anak dengan proses pengulangan.

Kemampuan berkomunikasi pada anak memang perlu dilatih dengan baik sebagai bekal dalam menjalin hubungan sosial. Keterampilan berkomunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara, tetapi mampu menyampaikan dengan baik kepada orang lain sekaligus juga mampu memahami dan memberikan respon atas komunikasi yang dijalin oleh orang lain.

Keterampilan berkomunikasi ini bisa kita latih dengan cara kita meminta anak untuk mengungkapkan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya dengan jelas. Ketika anak menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya, kita mendengarkan dengan saksama sambil sesekali merespon dengan pertanyaan baru, kenapa membutuhkan hal tersebut, apa alasannya, dan seterusnya.

Didalam komunikasi yang baik, sudah tentu harus ada keselarasan antara dua pihak atau lebih dari orang yang sedang menjalin komunikasi. Di sinilah anak-anak juga kita latih untuk bisa mendengarkan dengan baik ketika orang lain menyampaikan sesuatu, kita latih juga memahami ekspresi dan gerak nonverbal orang lain dalam berkomunikasi. Misalnya, ketika kita bertamu dan mendapati tuan rumah sudah menguap-apalagi berkali-kali menguap-atau tuan rumah sesekali melihat jam, hendaknya kita memahami situasi dan segera menyudahi pembicaraan untuk mohon pamit..

Sementara anak-anak memiliki masalah dan kekhawatiran mereka sendiri.  Jika mereka juga memiliki kebiasaan menceritakan tanpa henti masalah mereka, maka sangat penting untuk mendengarkan mereka, sehingga mereka akan didorong untuk membuka pikiran mereka.  Anak-anak akan memiliki banyak hal yang perlu dibicarakan dan mereka membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan pikiran mereka dan memecahkan masalah mereka. Banyak orangtua hanya gagal untuk mendengarkan anak-anaknya.  Sebaliknya, mereka malah mencoba mengendalikan anak-anak dengan memberitahu mereka apa yang harus mereka lakukan.  Padahal dengan mendengarkan mereka secara aktif dan terus menerus justru akan membantu meningkatkan hubungan orang tua dengan anak-anak, dan orang tua pun juga bisa banyak belajar melalui mereka dan memahami mereka.  Orang tua justru perlu untuk mendorong anak untuk berbicara dan mengekspresikan pendapat mereka.  Biarkan mereka mengetahui pentingnya mendengarkan orang lain terlebih dahulu sebelum berbicara dengan mereka.

Dalam mengajarkan seni komunikasi yang efektif kepada anak, dapat dilakukan dengan jenis kegiatan apapun asalkan kegiatan tersebut mendorong anak-anak untuk berbicara dan mendengarkan.  Selain itu anak-anak juga dapat terdorong untuk berbicara dengan orang lain.  Kegiatan itu bisa berupa cerita/story telling, menelpon seseorang, meminta menceritakan kembali dengan kata-katanya sendiri, dan lain sebagainya.

Dalam kegiatan tersebut, orang tua dapat mengajarkan anak bagaimana komunikasi aktif dan bermakna terjadi antara dua orang, dasar-dasar berkomunikasi serta melatih bagaimana bersikap sopan pada waktu berbicara dengan orang lain.

a)      Pentingnya Komunikasi Keterampilan  Non-Verbal

keterampilan non-verbal adalah sama pentingnya dengan kemampuan verbal, karena orang selalu menggunakan ekspresi non-verbal untuk menyampaikan ide-ide mereka dan ekspresi.  Bahasa tubuh bisa membantu orang dalam percakapan tanpa kata-kata dengan orang lain.  Percakapan tersebut dapat terjadi diantara dua orang yang berbeda budaya atau bahasa.  Oleh sebab itu anak perlu untuk mempelajari arti ekspresi wajah, gerakan tubuh mulai dari kepala, mata, tangan dan lain sebagainya.

b)      Mendorong Anak Berpidato

Kelas di sekolah bukan tempat yang tepat untuk belajar.bagaimana berbicara, karena merupakan lingkungan yang terkendali, dimana guru yang banyak berbicara. Umumnya anak-anak menjadi pendengar pasif di kelas.  Sementara itu, rumah bisa menjadi tempat di mana anak-anak dapat belajar bagaimana berbicara.  Doronglah anak agar bebas berbicara dengan membiarkan mereka mengeluarkan pendapat mereka.

Seringkali anak-anak merasa malu dan menarik diri, ketika berbicara dengan guru dan teman-teman. Kadang-kadang, mereka bahkan mengalami masalah harga diri.  Orang tua perlu mendorong anak-anak mereka untuk meruntuhkan hambatan tersebut.  Orang tua juga harus memainkan peran aktif untuk membantu anak-anak mereka belajar dan menguasai seni komunikasi yang efektif

Kita juga bisa melatih keterampilan berkomunikasi ini dengan meminta anak tercinta untuk menyampaikan apa yang sedang ia rasakan atau menggambarkan perasaannya. Misalnya, seusai sang anak melihat kecelakaan di sebuah perjalanan, di rumah kita bisa bertanya kepada anak kita tentang bagaimana perasaanya ketika melihat kecelakaan tersebut. Di samping melatih berkomunikasi, latihan ini juga mengembangkan empati pada anak.

B.Berkomunikasi positif terhadap orang lain.

Dengan perhatian positif dari orang tuanyaanak-anak selalu melakukan sesuatu dengan baik.  Anak-anak menginginkan cinta dan kasih sayang tak terbatas dari orang tuanya.  Oleh karena itu orang tua seharusnya menghindari menggunakan kata-kata negatif yang akan membuat mereka pun jadi berpikiran negatif.  Sebaliknya, jika anak-anak melakukan sesuatu yang baik, orang tua harus melengkapi mereka dengan kata-kata yang baik pula.

Tidaklah mudah, orang tua pun memerlukan latihan.Bagian terpenting dari latihan tersebut adalah untuk membiarkan anak-anak tahu bahwa memuji atau mengucapkan kata-kata yang baik selalu lebih baik bagi mereka. Anak-anak pun pada akhirnya dapat memahami bahwa mengucapkan kata-kata yang baik kepada orang lain akan menciptakan hubungan yang harmonis pribadi.  Beberapa kata pujian atau kata positif yang bisa diterapkan antara lain: Bagus, Hebat, Menakjubkan, Aku sangat bangga padamu, Aku senang kamu melakukannya, Itu benar-benar baik, Itu ide bagus, Kau jenius, Aku sayang padamu dan kata baik lainnya.

Komunikasi positif dapat dikatakan secara mudah, sebenarnya yaitu, dimana terjadi suatu komukasi dengan intensi adanya pencapaian pengertian yang sama antara kedua belah pihak terhadap peasan yang disampaikan dengan tetap melakukan respectk dalam prosesnya kalau tidak ada kompenan dari yang diatas maka larinya komunikasi tersebut adalah negative, artinya tidak ada komunikasi dan perolehan yang ditimbulkannya berdampak pada kebosanan, adanya asumsi image yang kurang baik mungkin perpecahan, kalau ada komunikasi positif semuanya dapat dilakukan malah berbuah sinergi.

Memang ada yang berperan sebagai Devil Advokat dalam suatu komunikasi sebuah kelompok. Tetapi itu biasanya dilakukan dalam suatu tim dan bermaksud mengarahkan kelompok tersebut agar melakukan sesuatunya lebih baik lagi atau dengan kata lain yang melakukan devil advokat harus berintensi untuk memajukan kelompoknya. Tapi kalau intensinya untuk menunjukkan kesalahan orang lain dan menonjolkan diri, disini komunikasi akan berlari ke arah negatif alias tak akan ada achievement yang akan dihasilkan kelompok tersebut.Cara mendengarkan yang baik adalah :

  • Dengarkan gagasannya bukan fakta dan tanyalah diri sendiri apa yang pembicara maksudkan.
  • Nilailah isinya, bukan cara penyampaiannya.
  • Dengarkan dengan penuh harapam, jangan langsung kehilangan minat
  • Jangan cepat menarik kesimpulan
  • Sesuaikan pencatatan anda dengan pembicaraan
  • Pusatkan perhatian, jangan mulai bermimpi dan jagalah mata anda agar tetap tertuju pada pembicaraan
  • Jangan mendahului pikiran pembicara, anda akan kehilangan jejak.
  • Dengarlah dengan sungguh-sungguh waspada dan bergairah.
  • Kendalikan emosi waktu mendengar
  • Bacalah fikiran anda, berlatihlah untuk menerima informasi baru.
  • Bernafaslah perlahan dan dalam-dalam
  • Jangan tegang santai sajalah.

Berikut ini adalah etika dan etiket ketika berkomunikasi :

  1. Jujur tidak berbohong
  2. Bersikap Dewasa tidak kekanak-kanakan
  3. Lapang dada dalam berkomunikasi
  4. Menggunakan panggilan / sebutan orang yang baik
  5. Menggunakan pesan bahasa yang efektif dan efisien
  6. Tidak mudah emosi / emosional
  7. Berinisiatif sebagai pembuka dialog
  8. Berbahasa yang baik, ramah dan sopan
  9. Menggunakan pakaian yang pantas sesuai keadaan
  10. Bertingkahlaku yang baik

C.Sosiodrama (Bermain Peran )

Adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain sebagainya. Sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya (Depdiknas, 2010: 23).

Kaitanya dalam pembelajaran di Taman Kanak-kanak, sosiodrama adalah suatu cara mengajar dengan cara mengajar dengan jalan mendramatisasikan bentuk tingkah laku dalam hubungan sosial, pada permainan ini titik tekan ada pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera kedalam suatu situasi masalah yang di hadapi secara nyata.

Peranan sosiodrama dapat digunakan apabila :

  1. Pelajaran dimaksudkan untuk melatih dan menanamkan pengertian dan perasaan seseorang
  2. Pelajaran dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial dan rasa tanggung jawab dalam memikul amanah yang telah dipercayakan
  3. Jika mengharapkan partisipasi kolektif dalam mengambil suatu keputusan
  4. Apabila dimaksudkan untuk mendapatkan ketrampilan tertentu sehingga diharapkan siswa mendapatkan bekal pengalaman yang berharga, setelah mereka terjun dalam masyarakat kelak
  5. Dapat menghilangkan malu, dimana bagi siswa yang tadinya mempunyai sifat malu dan takut dalam berhadapan dengan sesamanya dan masyarakat dapat berangsur-angsur hilang, menjadi terbiasa dan terbuka untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya
  6. Untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki oleh siswa sehingga amat berguna bagi kehidupannya dan masa depannya kelak, terutama yag berbakat bermain drama, lakon film dan sebagainya.

 

b.      Tujuan permainan Sosiodrama

Dapat dikatakan bahwa teknik sosiodrama lebih tepat digunakan untuk mencapai tujuan yang mengarah pada:

ü  Aspek afektif motorik dibandingkan pada aspek kognitif, terkait dengan kehidupan hubungan sosial. Sehubungan dengan itu maka materi yang disampaikan melalui teknik sosiodrama bukan materi yang bersifat konsep- konsep yang harus dimengerti dan dipahami, tetapi berupa fakta, nilai, mungkin juga konflik-konflik yang terjadi di lingkungan kehidupannya.

ü  Melalui permainan sosiodrama, konseli diajak untuk mengenali, merasakan suatu situasi tertentu sehingga mereka dapat menemukan sikap dan tindakan yang tepat seandainya menghadapi situasi yang sama. Diharapkan akhirnya mereka memiliki sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam mengadakan penyesuaian sosial.

 

c.       Langkah-langkah yang di tempuh

Untuk mempermudah dalam praktik pembelajaran Husniah (2011) merinci proses pembelajaran sosiodrama menjadi

ü  Awal pembelajaran guru memperkenalkan aturan main dari model pembelajaran yang akan digunakan kepada siswa.

ü  Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok

ü  Guru mengarahkan siswa untuk menentukan tema dan skenario yang meliputi situasi, masalah, peristiwa dan latar.

ü  Siswa secara bergantian memerankan drama yang telah disiapkannya.

ü  Guru sebagai sutradara (fasilitator) dapat menghentikan drama (apabila esensi atau pokok yang akan dibahas telah dicapai)

ü  Guru mengarahkan pada diskusi. Pada proses ini guru dan siswa memberikan komentar, kesimpulan, atau catatan mengenai topik yang diangkat dalam sosiodrama dan tanggapan mengenai penampilan siswa.

 

d.      Kelebihan dan kekurangan permainan sosiodrama

 

Kelebihan Permainan Sosiodrama

  1. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa.
  2. Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias
  3. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi
  4. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri
  5. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan dapat menumbuhkan / membuka kesempatan bagi lapangan kerja

 

Kekurangan Permainan Sosiodrama

  1. Sosiodrama dan bermain peranan memelrukan waktu yang relatif panjang/banyak
  2.  Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid. Dan ini tidak semua guru memilikinya
  3. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu
  4. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai
  5. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini

 

Pengembangan kemampuan Sosio Emosional anak Melalui Permainan Sosiodrama  

Aktivitas bermain bagi seseorang anak memiliki peranan yang cukup besar dalam mengembangkan kecakapan sosialnya sebelum anak mulai berteman.Menurut Singer (2004) mengemukakan bahwa dalam bermain dapat digunakan anak untuk menjelajahi dunianya, mengembangkan kopetensi dalam usaha mengatasi dunianya, mengembangkan kreatifitasnya dan dengan bermain anak memiliki kemampuan untuk memahami konsep secara alamiah tanpa unsur paksaan.

Sikap yang bisa di kembangkan dalam bermain antara lain :

v  Sikap sosial

Bermain mendorong anak untuk meninggalkan pola berfikir egosentrisnya.Dalam situasi bermain anak bisa mempertimbangkan sudut pandang teman bermainya sehingga egosentrisnya bisa sedikit demi sedikit berkurang.Dalam permainan, anak belajar bekerjasama untuk tujuan bersama.Mereka belajar untuk menunda kepuasan sendiri selama beberapa menit, misalnya saat menunggu giliran bermain. Iapun terdorong untuk belajar berbagi, bersaing dengan jujur, menang atau kalah dengan sportif, mempertahankan haknya dan peduli terhadap hak-hak orang lain. Lebih lanjut ia pun akan belajar makna kerja tim dan semangat tim.

v  Belajar berkomunikasi

Untuk dapat bermain dengan baik bersama orang lain, anak harus bisa mengerti dan dimengerti oleh teman-temanya. Hal ini mendorong anak untuk belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik, bagaimana membentuk hubungan sosial, bagaimana menghadapi dan memcahkan masalah-masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.

 

 

v  Belajar mengorganisasi

Saat bermain bersama orang lain, anak juga berkesempatan belajar berorganisasi. Bagaimana ia harus melakukan pembagian peran diantara mereka yang turut serta dalam permainan tersebut, misalnya siapa yang menjadi guru dan siapa yang menjadi muridnya.

 

v  Lebih menghargai perbedaan/perbedaan orang lain

Bermain memungkinkan bagi anak untuk mengembangkan kemampuan empatinya.Saat bermain dalam sebuah peran, misalnya anak tidak hanya memerankan identitas tokoh, tetapi juga pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tokoh tersebut. Permainan (bermain peran) membantu anak membangun pemahaman yang lebih baik atas orang lain, lebih toleran, serta mampu berlapang dada terhadap perbedaan-perbedaan yang dijumpai.

 

v  Menghargai harmoni dan kompromi

Saat dunianya semakin luas dan kesempatan berinteraksi semakin sering dan bervariasi maka akan tumbuh kesadaranya akan makna peran sosial, persahabatan, perlunya menjalin hubungan serta perlunya strategi dan diplomasi dalam berhubungan dengan orang lain. Anak tidak akan begitu saja merebut mainan teman, misalnya ia tahu konsekuensi ditinggalkan atau dimusuhi.

 

d.latihan berdialog

Pengertian Umum, dialog adalah proses komunikasi antara 2 atau lebih. Dalam pembelajaran untuk anak usia dini  latihan berdialog sangat penting karena berdialog melatih anak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan bersosialisasi yang sempurna. Latihan dialog ini dalam pembelajaran anak usia dini dapat kita lakukan dengan bentuk kegiatan sosiodrama, bermain peran atau bisa Tanya jawab lagsung atau diskusi baik antara anak dengan anak- antara anak dengan guru, dimana antara kedua responden tersebut terjadi feedback atau saling mengasih idea tau gagasan tentang apa yang sedang dipermasalahkan.

 

  1. f.        Latihan kompromi

Kompromi atau kerjasama bisa kita latih pada anak sejak dini, hal ini akan membentuk kepribadian anak kearah yang positif, melalui kerja sama ini nantinya anak akan terbiasa untuk hidup tolong menolong antara sesamanya, dan bisa diajak untuk kerjasama. Selain itu, social anak akan berkembang dengan sempurna.

Adapun bentuk kegiatan yang dapat kita lakukan untuk anak dalam bentuk kompromi ini adalah dalam hal bermain peran atau dalam proses belajar kita ajak anak bekerja sama untuk terbentuknya suatu pembelajaran yang sempurna dan tujuan pembelajaran tercapai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Djamarah,syaiful bahri.2004.pola Komunikasi orangtua dan anak dalam keluarga,Jakarta: Rineka Cipta

http://www.wikimu.com/news/DisplayNews.aspx?id=19780

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/artikel%20EQ.pdf

(http://animenekoi.blogspot.com/2012/05/teknik-sosiodrama.html)

 

(http://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/16/metode-sosiodrama-dan-bermain-peranan-role-playing-method/)

 

(http://alhafizh84.wordpress.com/2010/01/16/metode-sosiodrama-dan-bermain-peranan-role-playing-method/)

(http://blog.elearning.unesa.ac.id/galuh-dwi-b/bermain-pada-anak-usia-dini)

Pengembangan Kemampuan Membina Hubungan Dengan Orang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s