Aside

TAHAPAN PERKEMBANGAN BERMAIN

Image1.      Tahapan umum

Agar dapat meberi bimbingan kepada anak TK dengan sebaik baiknya, guru perlu mengetahui bahwa pada umumnya anak akan melalui tingkatan-tingkatan atau tahap-tahap bermain sebagai berikut:

1.1 Tahap manipulatif

Pada umumnya tahap ini dapat dilihat pada anak usia 2 sampai 3 tahun. Dengan alat-alat atau benda yang ia pegang, anak melakukan penyelidikan dengan cara membolak-balik, meraba-raba, bahkan menjatuhkan lalu melempar dan memungut kembali, meraba-raba dan sebagainya. Anak-anak melakukan hal ini untuk mengetahui apa yang dapat diperbuatnya dengan benda-benda atau alat tersebut. kegiatan bermain ini jangan dianggap tidak ada manfaatnya karena selain anak-anak dapat mengenal sifat dan fungsinya, mereka juga memperoleh pengalaman dan keterampilan manipulatif yang diperlukan untuk melangkah ke tahap berikutnya.

Contoh permainan pada tahap manipulatif ini yaitu: Bermain dengan plastiasin atau tanah lia

1.2 Tahap simbolis

Peralihan dari tahap manipulatif ke tahap simbolis hampir tidak terlihat karena anak yang sudah sampai pada tahap simbolis kadang-kadang kembali lagi melakukan kegiatan seperti yang dilakukan pada tahap manipulatif. Anak yang berada pada tahap ini kadang-kadang berbicara sendiri tentang apa yang dibuatnya sesuai dengan fantasinya atau hal-hal yang pernah dilihat di lingkungannya. Seperti anak yang bermain dengan balok-balok, terdengar berucap “ini mobil papaku”. Pada umumnya anak yang berada pada tahap simbolis adalah anak yang berumur 3-4 tahun.

1.3 Tahap eksplorasi

Pada tahap ini anak sering bermain sendiri, ia lebih senang tidak berteman dalam bermain. Di bak pasir misalnya, ia melakukan penyelidikan dan penemuan tentang sifat pasir kering, pasir basah serta alat-alat pelengkap yang digunakannya seperti mengoyak pasir, menyendok, dan menuangkan pasir kedalam wadah dan sebagainya. Kegiatan bermain ini dilakukan berulang-ulang dengan hati yang riang, walaupun sepintas tampaknya kegiatan ini tidak berarti tetapi anak yang berada dalam tahap eksplorasi ini mulai memperoleh penemuan-penemuan besar tentang sifat pasir basah, pasir kering dan memupuk keterampilan manipulatif dari kesibukan yang dilakukannya.

1.4 Tahap eksperimen

Setelah anak-anak memperoleh pengalaman baru dalam tahap-tahap sebelumnya, mereka mulai melakukan percobaan-percobaan, yang berarti mereka memasuki tahap eksperimen. Perhatian mulai tertuju pada kegiatan bentuk dan ukuran, menyamakan bentuk dan ukuran, serta memilih bentuk-bentuk tertentu yang akan digunakan dalam membuat kue dari pasir misalnya. Pada tahap ini anak-anak pada umumnya berusia 4-5 tahun.

1.5 Tahap dapat dikenal

Anak usia 5 sampai 6 tahun pada umumnya telah mencapai tahapan bermain yaitu, membangun bentuk-bentuk yang realistis, bentuk-bentuk yang sudah dikenal atau dilihat anak dalam kehidupannya sehari-hari. Bentuk-bentuk yang dibuatnya sudah dapat dimengerti oleh orang lain yang melihatnya, karena sudah mendekati bentuk-bentuk yang sesungguhnya. Misalnya membentuk beberapa jenis hewan tiruan dengan plastisin lalu mempergunakan berbagai-bagai alat pelengkap, seperti ranting dan daun-daunan, mobil-mobilan untuk membuat hasil karyanya tampak lebih realistis, sering juga anak-anak yang berada pada tahap bermain ini membuat sesuatu bersama, mereka belajar menentukan apa yang akan dibuatnya, merundingkan apa yang akan diperlukan, alat-alat pelengkap yang akan dipakai, membagi tugasnya masing-masing dan bertanggung jawab pula atas berhasilnya kegiatan yang mereka lakukan bersama. Anak usia 5-6 tahun di TK yang duduk di kelompok B diharapkan sudah melewati tahap-tahap bermain dari tahap manipulatif sampai tahap dapat dikenal. Pengalaman-pengalaman serta latihan-latihan pada tahap sebelumnya merupakan pembuka jalan untuk sampai pada tahap dapat dikenal.

Jadi, setelah mengenal kelima tahapan bermain anak perlu kita ketahui bahwa setiap anak berkembang sesuai dengan kecepatannya sendiri.

2.      Perkembangan kegiatan bermain

Selain tahapan bermain yang merupakan penggolongan tahap bermain secara umum, yang sering digunakan guru TK dalam melakukan pengamatan perilaku bermain anak dan penilaian, akan diuraikan pula perkembangan bermain dalam kaitannya dengan perkembangan kognitif menurut Jean Piaget dan teori Milderd Partern yang mengaitkan perkembangan bermain anak dengan perkembangan sosialnya.

  1. Jean Piaget (1962) dalam usia dini, anak-anak akan melampaui tahap perkembangan bermain kognitif mulai dari bermain sensori motor atau bermain yang berhubungan dengan alat-alat panca indra sampai memasuki tahap tertinggi bermain yaitu bermain yang ada aturan bermainnya, dimana anak dituntut menggunakan nalar. Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap perkembangan bermain sejalan dengan perkembangan kognitif anak, yaitu:
  • Sensori motor play (lahir sampai dengan 1.5-2tahun)

Pembawaan sejak lahir berupa mengisap dan menangis merupakan kegiatan refleks ketika ia belajar mula-mula tentang dunianya. Dalam tahap ini anak belajar melalui skema-skema alat panca indranya, anak mulai belajar mengkooerdinasikan fungsi-fungsi penglihatan dan gerak (seperti melihat benda yang menarik kemudian merebutnya) dilakukan berulang-ulang karena merasa senang dapat melakukannya. Anak juga mulai belajar menggeser hambatan-hambatan yang ada untuk mendapatkan sesuatu benda yang menarik perhatiannya.

  • Simbolic play (bermain simbolis)

Anak usia 2-7 tahun berada pada tahap perkembangan ini. Bermain simbolis merupakan ciri-ciri tahap pra operasional dan yang terjadi adalah sebagai berikut:

ü  Secara bertahap anak mulai makin berbahasa dengan kata-kata baru, sering bertanya dan menjawab pertanyaan.

ü  Anak-anak ingin sekali belajar dan tidak henti-hentinya bereksplorasi, yang memanipulasi benda-benda serta bereksperimen dengan lingkungannya agar dapat mempelajari lebih banyak hal lagi

ü  Anak mulai dapat menggunakan berbagai benda sebagai simbol atau pengganti benda-benda lain dan bermain pura-pura seperti balok bisa jadi telepon atau jadi ayam goreng ketika pura-pura masak.

ü  Dalam perkembangannya kegiatan bermain simbolis ini akan semakin bersifat konstruktif, dalam arti lebih mendekati kenyataan, merupakan latihan berfikir dan mengarahkan anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya

  • Permainan games dengan aturan yang berhubungan dengan prilaku sosial (social play game with roles)

Tahap permainan ini dilakukan anak-anak berusia antara 8-11 tahun yang dikenal juga dengan kongkrit operasional. Anak-anak dapat menggunakan nalarnya dalam kegiatan bermain

  • Games dengan aturan dan olahraga (usia 11 tahun ke atas)

Bermain termasuk salah satu bagian dari olahraga. Olehkarena itu, kegiatan inin masih sangat digemari dan diminati anak-anak. Bila kita kagi tahap-tahap bermain yang dikemukakan oleh Piaget akan terlihat bahwa bermain yang tadinya dilakukan karena kesenangan bermainnya itu, secara bertahap mengalami perubahan yaitu dari rasa senang berubah dan bergeser tujuannya menjadi rasa ingin berkompetisi untuk mendapatkan suatu prestasi, menjadi pemenang.

2. Pandangan Parten

Menurut Parten yang meneliti kegiatan bermain sebagai sarana sosialisasi anak, terdapat enam tahapan perkembangan bermain yang dapat dilihat dan diamati ketika anak-anak melakukan kegiatan bermain. Dia juga mengungkapkan adanya perkembangan bermain dari tingkat sederhana sampai tingkat yang tinggi.

Tabel. Tingkat perkembangan bermain sosial

unoccupied Mengamati kegiatan oranglain. Bermain dengan tubuhnya, naik turun tangga, berjalan kesana kemari tanpa tujuan, bila tidak ada hal yang menarik perhatiannya.
Onlookers (berperilaku seperti penonton/pengamat) Mengamati, bertanya dan berbicara dengan anak lain, tetapi tidak ikut bermain. Berdiri dari kejauhan untuk melihat dan mendengarkan anak-anak lain atau bercakap-cakap.
Bermain Solitaire (bermain sendiri) Bermain sendiri dan tidak terlibat dengan anak-anak lain. Bermain dengan mainannya sendiri merupakan tujuannya.
Bermain Paralel Bermain berdampingan atau berdekatan dengan anak lain menggunakan alat, tetapi bermain sendiri. Tidak menggunakan alat-alat bersama, hanya berdampingan dengan anak lain, tidak bermain dengannya.
Bermain Associative Bermain dengan anak-anak lain dengan jenis permainan yang sama. Terjadi percakapan dan tanya jawab serta saling meminjam alat permainan, tetapi tidak terlibat dalam kerjasama, misalnya dalam kegiatan menggunting bentuk-bentuk gambar.
Bermain Kooperatif(group play) Bermain bersama melakukan suatu proyek bersama, misalnya dalam permainan drama, permainan konstruktif, membangun dengan balok sebuah kota atau melakukan permainan bersama yang ada unsur kalah menang, bermain di bak pasiratau bermain bola kaki yang sederhana, petak umpat dan lain-lain.

3. Pandangan Hurlock

Menurutnya perkembangan bermain terjadi melalui  tahapan sebagai berikut

a)      Tahap eksplorasi

Bila anak diberikan benda atau alat yang baru dikenalnya,pertama-tama mereka mencari tahu,mengamati,menyelidiki apa yang dapat dilakukan benda atau alat tersebut. Benda diraih mulailah tanganya membolak-balik,menekan-nekan bahkan dijatuhkan  dan dipungut kembali diamati lagi,kemudian ditinggalkan dan anak berpindah mencoba benda atau alat yang lain.

b)      Tahap alat permain (toy stage)

Pada tahap ini pengamatan dengan seksama terhadap benda-benda/alat permainan tetap masih berlansung untuk mencari kemungkinan –kemungkinan cara memainkannya. Usia prasekolah anak bermain dengan mainan dan mengangap dapat berkomunikasi  dengannya seperti dengan manusia ,anak bercakap-cakap de ngan boneka yang dianggapnya teman sekolahnya.

c)      Tahap bermain  (play stage)

Di tahap ini anak sudah tahu berbagai jenis permainan bersama maupun sendiri dengan alat permainan seperti bermain games,elektronik,bermain ular tangga dan lain-lain.

d)      Tahap melamun (daydream stage)

Pada tahap ini anak sudah merasa besar dan tidak cocok lagi dengan bermain mobil-mobilan atau bermain dengan boneka,kecuali boneka empuk dan lucu untuk dipeluk-peluk dikamar sambil mengkhayal dan melamun.

4. smilansky (1968) dan Shefatya (1990)

Teori ini merupakan adaptasi tahapan perkembangan permainan kognitif dari Piaget dan membagi perkembangan bermain kognitif anak atas 4 kategori ,yaitu

1. Bermain fungsional

Ciri-cirinya adalah sederhana,menyenangkan dengan gerakan berulang-ulang menggunkan alat atau tanpa alat,oleh anak usia samapai 2 tahun. Kegiatan bermain ini mendominasi 2 tahun pertama perkemabangan anak. Melalui bermain fungsional anak mulai merasa yakin dan mampu akan tubuh mereka.

Bermain fungsional menjadi bermain konstruktif ketika anak hamya memasukkan jari-jarinya kedalam mangkok berisi cat finger painting,berubah kekegiatan menggambar suatu bentuk atau ganti menyusun dan membongkar balok-balok.

2. Bermain membangun (konstruktif)

Anak-anak menciptakan sesuatu menurut suatu rencana yang tersusun sebelumnya. Kegiatan semacam ini mendominasi selama tahun prasekolah dan dapat diamati terutama pada saat bermain membangun balok diarea balok. Bermain konstruktif,merupakan bentuk permainan aktif dimana anak membangun sesuatu dengan mempergunakan bahan atau alat permaianan yang ada. Semula bersifat reproduktif, artinya anak hanya mereproduksi objek yang dilihatnya sehari-hari atau mencontoh gambar atau bentuk yang diberikan. Namun, dengan berkembangnya imajinasi anak mulai menciplak bentuk-bentuk secara orisinal sesuai dengan kreativitasnya masing- masing.

3. Bermain Khayal (dramatic play)

Dalam bermain dramatisasi anak-nak menirukan tindakan-tindakan yang dihubungkan dengan sesuatu perlengkapan tertentu,berlajar berperan seolah-olah mereka adalah seseorang atau sesuatu yang tidaj asaing lagi bagi mereka. Kegiatan bermain ini mulai muncul pada anak usia prasekolah yang disebut juga tahun emasnya bermain pura-pura pada anak di TK sering muncul diarea Keluarga atau rumah tannga diman tersedia alat-alat bermain serta perlengkapan lainnya4. Bermain dengan aturan

Ini berarti dalam kegiatan bermain ada aturan bermainnya seperti dalam bermain “ular tangga” atau permainan kelompok diluar seperti bermain “sapu tangan”, “tikus dan singa” dan sebagainya. Jenis permainan seperti ini mengembangkan koordinasi fisik anak,menghaluskan keterampilan sosial dan berbahasa serta membangaun konsep kerja sama dan kompetisi atau lomba.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Montolalu, B.E.F. 2005. Bermain dan permainan anak. Jakarta: universitas terbuka

http://www.bersamadakwah.com/2013/04/bunda-beginilah-tahapan-bermain-anak.html

http://www.slideshare.net/b_triwaluyo/bermain-dankreativitasanakusiadini-15006694

http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Amati-Perkembangan-Bermain-Anak-Anda

TAHAPAN PERKEMBANGAN BERMAIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s