ADAPTASI DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SAINS PADA ANAK DINI DI INDONESIA

Standard

ADAPTASI DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN SAINS PADA ANAK USIA DINI DI INDONESIA

Image

  1. A.   Pengembangan Sains Berbasis Sosio-Kultural Dan Dinamika Lingkungan

Pengembangan pembelajaran sains harus dimulai pada ruang waktu, kesempatan, peluang dan celah-celah yang memungkinkan dan dapat dimanfaatkan (ditembus) oleh kita, terutama oleh pihak-pihak yang memang dipersiapkan dalam bidang ini.

Kesadaran akan keleluasaan sains tersebut harus disosialisasikan dan disebarkan pada seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat pendidikan disamping masyarakat lain pada umumnya. Dalam pengembangan pembelajaran sains, terdapat beberapa pertimbangan diantaranya:

  • Ø Sains sesungguhnya tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan, karena begitu banyaknya manfaat sains bagi kehidupan.
  • Ø Sosial-budaya, lingkungan dan pembangunan berkembang secara dinamis dan berlangsung secara terus menerus
  • Ø Pendidikan sains dapat membangun sikap ilmiah yang dapat menimbulkan kesadaran akan pentingnya nilai-nilai yang ada di alam dan masyarakat sehingga menimbulkan sikap yang positif
  • Ø Pendidikan sains dapat membantu menggali keadaan lingkungan, pengaruhnya dan sumbangannya terhadap masyarakat dimana mereka berada
  • Ø Pendidikan sains dapat membantu dalam menyatukan cara pandang, berekspresi dan berprilaku seseorang atau sekelompok orang yang berlatar belakang berbeda
  • Ø Pendidikan sains memiliki potensi kuat untuk menyadarkan warga negara (khususnya anak) dalam hal keadaan lingkungan dan perubahannya.

Dengan program pengembangan pembelajaran sains yang mempertimbangkan sosial budaya dan dinamika lingkungan, maka akan menghasilkan produk yang bukan hanya cerdas dalam sains tetapi dapat membangun lingkungan dan daerahnya secara maksimal, karena program pengembangan pembelajaran sains menyatu dengan program pembangunan sosial-budaya dan lingkungannya.

Salah satu pilihan yang dianggap tepat adalah dengan menggunakan pendekatan STM (Sains, Teknologi dan Masyarakat) atau STS (Scienc, Technology, and Society). STM/STS adalah sutu inovasi dalam pengembangan pendidikan sains yang dipromosikan di Amerika Serikat sekitar tahun 1980 an sebagai suatu gerakan untuk mengatasikelemahan-kelemahan dalam program sains sebelumnya. Menurut Hadiat, 1984 STM/STS adalah pengajaran sains yang menekankan pada konsep-konsep sains serta peranan sains dan teknologi dalam kehidupan masyarakat, serta menumbuhkan rasa tanggung jawa sosial, terhadap dampak-dampaknya yang terjadi.

STM/STS mempunyai 4 kelompok sasaran:

  • Sains untuk memenuhi kebutuhan individu, artinya pendidikan sains digunakan untuk meningkatkan taraf hidup anak dan kemampuan antisipasi IPTEK yang berkembang
  • Sains diarahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dan berkembang dalam masyarakat
  • Pendidikan sains harus mengembangkan kesadaran anak didik tentang lingkungan serta jenis-jenis sais yang dianggap sesuai dengan karir bidang teknologi yang sesuai dengan minat, dan bakatnya
  • Pendidikan sains memberikan kesempatan dan turut mempromosikan anak untuk dapat mengembangkan pendidikan sainsnya secara akademis maupun profesional

Adapun ciri-ciri program pembelajaran STM/STS diantaranya:

  1. Siswa mengidentifikasi maslah-masalah yang ada dilingkungannya
  2. Pembelajran menggunakan sumber-sumber yang ada guna memperoleh informasi yang digunakan dalam pemecahan masalah
  3. Keterlibatan siswa secara aktif didalam mencari informasi untuk pemecahan masalah yang timbul dalam masyarakat
  4. Perluasan untuk terjadinya belajar melebihi periode, kelas dan lingkungan sekolah
  5. Pandangan mengenai sains sebagai isi lebih dari sekedar bermuatan konsep-konsep dan untuk kepentingan penyelesaian tes atau ujian
  6. Penekanan pada keterampilan proses sains agar dapat digunakan oleh siswa dalam mencari solusi terhadap masalahnya
  7. Pendekatan pada kesadaran karir yang berhubungan dengan sais dan teknologi
  8. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan dalam masyarakat dalam usha untuk memecahkan masalah yang di identifikasinya
  9. Menentukan cara-cara sains dan teknologi mempengaruhi masa depan

10. Sebagai perwujudan otonomi setiap individu dalam kegiatan pembelajaran

  1. B.    Dilema dan Hambatan Pengembangan Pembelajaran Sains pada Anak Usia Dini

Dilema dan hambatan pengembangan sains pada AUD di Indonesia tidak hanya dihadapi oleh negara kita, tetapi juga banyak negara lainnya. Kairena pada umumnya sains merupakan transpalantasi dari pendidikan sains yang berasal di barat, karena merupakan proses transpalantasi, proses pertumbuhan sering menemui kendala yang bertautan dengan budaya dan kebiasaan setempat, lokal atau regional.

Kesadaran bahwa sains merupakan bagian dari kehidupan dan tidak dapat di pisahkan, apalagi dalam era kebebasan seperti saat ini. Tuntutan dan fenomena tersebut akan sangat mencolok pada daerah-daerah perkotaan terutama di kota-kota besar. Sekolah-sekolah yang berada di lingkungan elite dan perkotaan, cenderung sangat tinggi kemampuannya dalam menyerap sains bagi perkembangan anak-anak didiknya, dan akan amat kontras sekali apabila dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang berada di daerah dan desa-desa.

Hasilnya adalah terjadi berbagai kesenjangan antara lembaga pendidikan yang ada. Terjadi kesenjangan pengembangan pembelajaran sains antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, hngga muncul nya fenomena sekolah favorit dan sekolah pinggiran, sekolah unggul dan sekolah biasa. Hal tersebut secara umum berpengaruh pada proses dan produk pendidikan, khususnya pengembangan pembelajaran sains.

Dengan meninjau pelaksanaan pendidikan sains di Indonesia khususnya pendidikan anak usia dini, peengembangan pembelajaran sains masih terasing pada sebagian besar masyarakat, apalagi bila dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan teknologi yag setiap saat berubah dan melintas dihadapan kita.

Dilema dan hambartan pengembangan pembelajaran sains pada pendidikan anak usia dini, diantaranya:

  1. Masih beragamnya pemahaman dan kemampuan guru dalam konsep pengembangan pendidikan sains dan penerapannya pada pembelajaran di sekolah-sekolah dan lembaga-lemba PAUD
  2. Masih kurang kesadaran dan kemampuan para guru dalam memanfaatkan sumber-sumber pembelajaran sains yang berada di lingkungan sekitar anak maupun sekolah.
  3. Masih terbatasnya sarana dan prasarana penunjang pembelajaran sains pada lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini, terutama pada lembaga-lembaga yang berada di daerah pedesaan
  4. Sebagian besar pengembangan pendidikan sains pada lembaga-lembaga PAUD masih sangat bersifat akademis, sehingga cenderung bersifat abstrak dan kurang bermakna bagi anak
  5. Masih rendahnya komitmen-pihak-pihak terkait dalam pengembangan pendidikan sains pada anak usia dini untuk turut bersama-sama dalam memajukan dan mempromosikan pengembangan pembelajaran sains yang benar pada jenjang ini
  6. Terdapat sejumlah perangkat sains terutama yang terkait dengan teknologi yang sulit diadakan oleh sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan anak usia dini
  7. Belum efektifnya dukungan kebijakan bahwa promosi dan pengembangan pembelajaran sains pada pendidikan anak usia dini betl-betul sesuatu yang mendasar dan amat penting, sehingga sulit mencapai konsistensi dalam perwujudannya.
  1. C.       Optimalisasi Peran Partisipan Dalam Pengembangan Pendidikan Sains Pada Anak Usia Dini

Pendidikan dan pengembangan pembelajaran sains pada anak harus memfokuskan tujuan pengembangannya pada tiga aspek utama yaitu pengetahuan (kognitif), proses (keterampilan), dan prilaku (emosi dan perasaan).

Fokus pengembangan pengetahuan (kognitif), maksudnya adalah sasaran pengembangan pembelajaran sains diarahkan agar anak menguasai konsep secara memadai tetapi bukan konsep yang bersifat abstrak sifatnya, melainkan lebih kongkrit dan bermakna. Fokus pada pengembangan proses (keterampilan) difasilitasi melalui pengalaman-pengalaman pengoperasan melalui alat fisik dan indranya secara langsung pada objek-objek sains sebagaimana yang telah dipahaminya. Sedangkan fokus pengembangan prilaku adalah berusaha membangkitkan perasaan yang terkait dengan segala sains yang dipelajarinya, sehingga sasaran sains yang digalinya menjadi lebih memiliki nilai dan sentuhan emosi sesuai taraf perkembangan anak usia dini.

Beberapa upaya yang terkait dan akan sangat bermanfaat dalam optimalisasi pengembangan pendidikan sains pada anak usia dini diantaranya:

  1. Kurikulum pemgembangan pembelajaran sains bagi anak usia dini dikembangkan terintegrasi
  2. Harusnya dilakukan upaya terus menerus untuk peningkatan mutu pengajar dan staf lainnya
  3. Dalam upaya meningkatkan peran masyarakat, khusunya orang tua
  4. Upaya pembuatan kebijakkan, promosi, publikasi kepada masyarakat potensial
  5. Masyarakat memilki peran juga mengubah lingkungannya sebelum mengajukan tuntutan perbaikan pendidikan sains dialamatkan pada guru
  6. Menyikapi semua tindakan yang dilakukan
  7. Pengembangan pembelajaran sains secara kontinyu dan konsisten
  8. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengidentifikasi bantuan pengembangan pembelajaran sains pada kelompok anak
  9. Mengembangkan keunggulan dalam pengembangan pembelajaran sains

10. Melakukan dan menganjurkan perintisan sekolah-sekolah yang berwawasan sains

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s