sekolah dan sosialisasi

Standard

 

“SEKOLAH DAN SOSIALISASI”

 

 

 

 

 

 

  1. A.    PENGERTIAN SEKOLAH

 

  • Pengertian Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang penting, pada zaman dulu dan terlebih lagi pada zaman sekarang. Dewasa ini sekolah merupakan kebutuhan setiap orang untuk mendapatkan pendidikan dari sekolah. Sekolah memegang peranan penting dalam sosialisasi, walaupun sekolah merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan. Seorang anak akan mengalami perubahan dalam prilaku sosialnya setelah dia masuk ke sekolah.

Sekolah adalah lingkungan pendidikan yang sejati berperan melaksanakan pembelajaran dan proses sosialisasi dengan mengacu pada empat pilar yaitu :

  • Belajar mengetahui (Learning to know)
  • Belajar melakukan (Learning to do)
  • Belajar menjadi diri sendiri (Learning to be)
  • Belajar hidup dalam kebersamaan (Learning to live together).

Sekolah merupakan lingkungan pendidikan yang diharapkan mampu melahirkan manusia yang seutuhnya yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).  (Razali, Ahmad dan Intan Pariwara 2010:11)

Dalam (mahmud, 2012:167-168) pengertian sekolah itu ada dua.  Pertama , lingkungan fisik dengan berbagai perlengkapan yang merupakan tempat penyelenggaraan proses pendidikan untuk usia dan kriteria tertentu.  Kedua, proses kegiatan belajar mengajar.

Philip robinson (1981) menyebut sekolah sebagai organisasi , yaitu unit sosial yang secara sengaja dibentuk untuk tujuan-tujuan tertentu.sekolah sengaja diciptakan untuk tujuan tertentu , yaitu memudahkan pengajaran sejumlah pengetahuan.

 

C.E Bidwell dan B.Davies menyebut sekolah sebagai organisasi birokrasi. Weber menyebutkan enam prinsip birokrasi:

1)      Aturan dan prosedur yang tetap

2)      Hirarki jabatan yang dikaitkan dengan struktur pimpinan

3)      Arsip yang mendokumentasikan tindakan yang diambil

4)      Pendidikan khusus bagi berbagai fungsi dalam organisasi

5)      Struktur karier yang dapat dididentifikasi

6)      Metode-metode yang tidak bersifat pribadi dalam berurusan dengan pegawai dan klien di dalam birokrasi.

Jadi, dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sekolah adalah sebagai sebuah wadah atau lembaga dimana disana terjadi proses sosialisasi dan proses belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik.

 

  • Pengertian Sosialisasi

Secara umum sosialisasi dimaknai sebagai proses belajar individu untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai sosial sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan atau perilaku masyarkatnya.  (Razali, Ahmad dan Intan Pariwara 2010:9)

Ada beberap pengertian sosialisasi menurut para ahli, yaitu :

  • Kimball Young, sosialisasi ialah hubungan interaktif yang dengannya seseorang mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural, yang menjadikan seseorang sebagai anggota masyarakat.
  • Arti sosiologis dan psikologis dari sosialisasi adalah :
  1. Secara sosiologis, sosialisasi berarti belajar untuk menyesuaikan diri dengan mores (tata kelakuan), folkways (kebiasaan), tradisi, dan kecakapan-kecakapan kelompok.
  2. Secara psikologis, sosialisasi berarti atau mencakup kebiasaan-kebiasaan, perangai-perangai, ide-ide, sikap dan nilai.
  • Sosialisasi dalam arti sempit, merupakan proses bayi atau anak menempatkan dirinya dalam cara atau ragam budaya masyarakatnya.

(Gunawan, Ary H  2010:33)

Sosialisasi itu sendiri merupakan proses alamiah yang membimbing individu untuk mempelajari, memahami dan mempraktikkan nilai-nilai, norma-norma, pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki oleh masyarakat, sosialisasi memiliki urgensi yang begitu kuat terhadap keberlangsungan pendidikan bagi individu sebagai anggota masyarakat .

Menurut webstar , 1999) dalam hasbullah atau institusi/lembaga yang secara khusus didirikan untuk menyelenggarakan proses belajar mengajar atau pendidikan. Sebagai institusi, sekolah merupakan tempat untuk mengajar murid-murid, tempat untuk melatih dan member instruksi-instruksi tentang suatu lapangan keilmuan dan keterampilan tertentu kepada siswa. Tempat yang dinamakan sekolah itu merupakan satu kompleks bangunan, laboratorium, fasilitas fisik yang disediakan sebagai pusat kegiatan belajar dan mengajar. Berdasarkan pendapat itu maka sekolah mengandung dua makna, secara fisik sekolah terdiri dari bangunan-bangunan gedung dan laboratorium, jadi sekolah dalam artian material. Sedangkan yang nonfisik terdiri dari sistem-sistem hubungan antara mereka yang ditugaskan untuk mengajar (guru, pelatih dan lain-lain) dengan yang diajar (murid, siswa), jadi sekolah dalam artian spiritual.( Pdf , 2013 , 10 april 2013: 20.19).

 

B. FUNGSI PENDIDIKAN SEKOLAH

            Ada beberapa pendapat mengenai fungsi pendidikan sekolah. Pendapat-pendapat itu adalah:

  1. Memberantas kebodohan
  2. Memberantas salah pengertian

Secara positif, kedua fungsi tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Menolong anak untuk menjadi melek huruf dan mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektualnya.
  2. Mengembangkan pengertian yang luas tentang manusia lain yang berbeda kebudayaan dan interestnya.

 

Gillin (2004:182), berpendapat bahwa fungsi pendidikan sekolah ialah penyesuaian diri anak dan stabilisasi masyarakat.

David popenoe (2004:182), mengemukakan pendapat yang lebih terperinci mengenai fungsi pendidikan sekolah. Menurut beliau ada empat macam fungsi itu, yaitu:

  1. Transmisi kebudayaan masyarakat
  2. Menolong individu memilih dan melakukan peranan sosialnya
  3. Menjamin integrasi social
  4. Sebagai sumber inovasi social

Broom & Selznick (2004:182), menambahkan satu fungsi lain. Menurut kedua penulis ini fungsi pendidikan sekolah ialah:

  1. Transmisi kebudayaan
  2. Integrasi social
  3. Inovasi
  4. Seleksi dan alokasi
  5. Mengembangkan kepribadian anak

Yang mirip dengan pendapat broom dan Selznick itu ialah pendapat yang dikemukakan oleh bachtiar rifai (2004:182). Menurut beliau tugas pendidikan sekolah ialah:

  1. Perkembangan kepribadian dan pembentukan kepribadian
  2. Transmisi cultural

Fungsi transmisi kebudayaan masyarakat kepada anak dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

  1. Transmisi pengetahuan dan ketrampilan
  2. Transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma

Transmisi pengetahuan ini mencakup pengetahuan tentang bahasa, system matematika, pengetahuan alam dan social, dan penemuan-penemuan teknologi. Dalam masyarakat industry yang kompleks, fungsi transmisi pengetahuan tersebut sangat penting sehingga proses belajar disekolah memakan waktu lebih lam, membutuhkan guru-guru dan lembaga khusus. Pengertian transmisi kebudayaan tidak hanya terbatas pada mengajarkan anak begaimana cara belajar, melainkan juga bagaimana menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru.

Disekolah, anak tidak hanya mempelajari pengetahuan dan ketrampilan, melainkan sikap, nilai-nilai dan norma-norma. Sebagian besar sikap dan nilai-nilai itu dipelajari secara informal melalui situasi formal dikelas dan disekolah.

 

 

 

  1. Integrasi social

Dalam masyarakat yang bersifat heterogin dan pluralistic, menjamin integrasi social merupakan fungsi pendidikan sekolah yang terpenting. Masyarakat Indonesia mengenal bermcam-macam suku bangsa masing-masing dengan adat istiadatnya sendiri bermacam0macam bahasa daerah, agama, pandangan politik, dan berbeda-beda taraf perkembanganya. Dalam keadaan demikian bahasa desintergrasi social sangat besar. Sebab itu tugas pendidikan sekolah yang terpenting ialah menjamin intergrasi social.

Untuk menjaga integrasi social adalah dengan cara sebagai berikut:

  1. Sekolah mengajarkan bahasa nasiona, yaitu bangsa Indonesia. Bahasa nasional ini memungkinkan komunikasi antara suku-suku dan golongan-golongan yang berbeda dalam masyarakat
  2. Sekolah mengajarkan pengalaman-pengalaman yang sama kepada anak melalui keseragaman kurikulum dan buku-buku pelajaran dan buku bacaan disekolah. Sekolah mengajarkan kepada anak corak kepribadian nasional melalui pelajaran sejarah, dan geografi nasional. Upacara-upacara bendera, peringatan hari besar nasional, lagu-lagu nasional dan sebagainya.
  3. Inovasi

Fungsi inovasi social lebih Nampak pada perguruan tinggi melalui kegiatan penelitianya, baik penelitian terpakai maupun penelitian dasar. Penelitian diperguruan tinggi menemukan hal-hal yang baru yang dapat menimbulkan pembaharuan dalam masyarakat baik inovasi dalam lapangan teknologi, kemjuan ilmu pengetahuan maupun kehidupan masyarakat.

Fungsi inovasi social juga terdapat pada smp dan sd, melalui pendidikan disekolah kepada msyarakat disekelilingnya, sekoah mengajarkan tentang kesehatan lingkungan gizi dan lain sebagainya.

  1. Perkembangan kepribadian anak

            Disekolah selain mengejarkan pengetahuan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan intelek anak, melainkan juga memperhatikan perkembangan jasmaninya melalui program olahraga dan kesehatan. Sekolah juga memperhatikan perkembangan watak anak melalui latihan kebiasaan dan tat tertib, pendidikan agama dan budi pekerti, dan sebagainya.

            Dapat disimpulkan bahwa, pendidikan disekolah berfungsi memperkembangkan kepribadian anak secara keseluruhan. Sebab itu dalam sekolah modern, pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab guru saja,melainkan semua pihak seperti konselor, perawat dan dokter sekolah, school psikologis dan lain sebagainya.

  1. Kebudayaan sekolah

Sekolah merupakan salah asatu institusi social yang mempengaruhi proses sosialisasi berfungsi mewarisakan kebudayaan masyarakat kepada anak. Sekolah merupakan suatu system social yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi social diantara para anggotanya yang bersifat unik pula. Ini disebut sebagai kebudayaan sekolah. Sekolah mengajarkan hal-hal yang belum dipelajari dalam keluarga dan kelompok  bermain. Pendidikan formal mempersiapkan diri seseorang untuk menguasai peranan-peranan baru dikemudian hari, saat seseorang tidak lagi menggantungkan diri pada orang tuanya.

Kebudayaan sekolah itu mempunyai beberapa unsure penting yaitu:

  1. Letak lingkungan, prasarana fisik sekolah.
  2. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.
  3. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist, dan tenaga administrasi. Nilai-nilai norma, system peraturan, dan iklim kehidupan sekolah.
    1. Pra-seleksi dan pra-alokasi tenaga kerja

 

  1. C.    DILEMA PENDIDIKAN SEKOLAH

Dilema atau permasalahan dalam pendidikan sekolah banyak ditemui pada saat sekarang ini. Dilema ini muncul akibat tidak sejalannya pendidikan formal, informal dan non formal dan tidak bekerja sama dengan baik sehingga tidak memiliki visi misi yang sama untuk memajukan pendidikan.

Berikut ini adalah permasalahan/dilema yang banyak terjadi disekolah antara lain yaitu :

  1. Bolos sekolah

Bolos merupakan permasalahan yang paling sering terjadi di sekolah, dimulai dari tidak mengikuti proses pembelajaran (mata pembelajaran) tertentu hingga tidak datang ke sekolah. Setiap sekolah memiliki kebijakan masing-masing dalam menangani masalah, seperti absensi sekolah ataupun absensi kehadiran.

  1. Narkoba

Pergaulan yang dapat menyebabkan peserta didik dimana ketika itu rasa keingin tahuan yang tinggi membuat peserta didik untuk mencoba-coba barang-barang terlarang seperti zat adiktif ataupun obat-obatan terlarang. Dalam hal ini tidak hanya faktor internal, melainkan faktor eksternal yang dapat menyebabkan peserta didik terjerumus ke dalam hal-hal yang demikian sehingga anak tersebut terjerumus kedalam pergaulan bebas.

  1. Tawuran

Permasalahan-permasalahan seperti ini seringkali dihadapi oleh peserta didik di tingkat SMA, peserta didik yang melakukan tindakan yang menyimpang  seperti tawuran ini karena mereka merasa dirinya hebat dan dianggap jagoan, yang mana menganggap membela nama sekolah.

  1. Bullying

Didalam pendidikan di sekolah pasti ada yang diatas dan ada juga yang dibawah dalam istilah ada senior dan ada juga junior, dengan adanya label seperti itu dapat menyebabkan Bullying dapat terjadi. Dimana dalam hal ini senior ingin dihargai oleh junior tetapi menggunakan cara yang salah. Tindakan seperti ini merupakan perilaku verbal dan nonverbal yang dapat membahayakan peserta didik bahkan perilakunya sendiri.

 

  1. D.    SEKOLAH SEBAGAI KONTEKS SOSIAL CULTURAL

Sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Sekolah merupakan suatu sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial diantara para anggotannya yang bersifat unik pula dan ini yang dinamakan kebudayaan sekolah.

Menurut Hagighurst dan Neugarten (dalam Dimyanti Mahmud, 1989) kebudayaan sekolah dinyatakan sebagai berikut “a complex set of beliefs, values and traditions, ways of thiking and behaving” yang artinya serangkaian keyakinan, nilai – nilai dan tradisi, cara – cara berfikir dan berprilaku, hal ini bersifat khas dan membedakan sekolah dari lembaga – lembaga sosialisasi lainnya.

Kebudayaan sekolah itu terdiri dari bermacam – macam unsur yaitu :

  1. Phisik, seperti letak sekolah, lingkungan alam, bangunan dan alat – alat dan sebagainya.

b.      Non phisik, seperti kurikulum yang memuat berbagai macam ide dan fakta, kepala sekolah, guru – guru, karyawan dan murid – murid beserta cara – cara mereka berinterakssi dan nilai – nilai sistem peraturan dan iklim kehidupan sekolah.

 

  1. E.     SEKOLAH SEBAGAI SISTEM INTERAKSI

Dalam (mahmud, 2012:168-170) Talcott Parsons menyebutkan sekolah sebagai sistem, yang didalamnya terdiri atas berbagai subsistem . subsistem yang ada dalam sekolah berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Interaksi dalam sekolah berlangsung antara empat kategori manusia dan antara orang-orang dalam setiap kategori. Keempat kategori itu meliputi pimpinan sekolah , guru,pelajar,dan karyawan nonguru (sudardja,1988:ibid).

Dalam (Paul B.Horton,  1999:339-340) sekolah merupakan suatu sistem sosial yang didalamnya terdapat seperangkat hubungan yang mapan, yang menentukan apa yang terjadi disekolah.

 

  1. F.     KELAS DAN SISTEM SOSIAL
  2. Pengertian kelas

Dalam (mahmud, 2012:171-179) kelas adalah ruangan arsitektur tertentu juga sebagai ciri khas ruangan sekolah tempat kegiatan siswa dalam mengikuti proses pendidikan .

  1. Homogenitas sebagai karakter kelas

Pada umumnya setiap kelas memiliki ciri homogenitas ,diantaranya :

  • Dari segi usia peserta.: Warga kelas satu SD rata-rata , untuk indonesia adalah anak-anak yang berusia enam tahun.
  • Dari segi kemampuan: kemampuan mereka hampir rata..
  • Jenis kelamin : sekolah tertentu memberlakukan satu ketentuan bahwa warga sebuah kelas harus terdiri atas anak-anak perempuan semuanya atau laki-laki semuanya.
  • Kesamaan huruf awal nama siswa: contohnya untuk kelas A, sebuah sekolah menempatkan anak-anaknya yang nama depannya diawali dengan huruf a, untuk kelas B, adalah anak-anak yang nama depannya diawali huruf b, dan seterusnya.
  • Tingkat kecerdasannya: beberapa siswa yang memiliki kelebihan intelektual ditempatkan dalam satu kelas. Ini dianggap sebagai upaya mempertahankan kualitas dan mempertahankan bibit unggul.
  1. Pengaturan ruangan kelas

Secara umum, anak-anak di indonesia menulis dari kiri kekanan dan menggunakan tangan kanan. jika ruangan kelas berbentuk segi empat , tempat duduk para siswa di indonesia berderet dari depan kebelakang dan kesamping. Sementara itu posisi papan tulis diletakkan ditengah-tengahn antar sesamadan meja guru berada dipinggirnya,baik sebelah kanan atau sebelah kiri.

  1. Interaksi dan suasana dikelas.

Didalam kelas terjadi interaksi antara guru dan siswa dan siswa, siswa dan antar sesama. Interaksi ini bersifat intensif dan terprogram.interaksi tersebut menimbulkan efek terhadap proses pendidikan.

Secara umum, suasana kelas disekolah terbagi dua. Pertama ,  susana kelas yang hidup, suasana kelas yang hidup ditandai dengan para siswa yang aktif dan responsif .Kedua  suasana kelas yang mati, skelas yang mati ditandai dengan siswa yang suasana yang pasif.

 

“keyakinan guru akan potensi manusia dan kemampuan semua anak untuk belajar dan berpotensi merupakan suatu hal yang penting diperhatikan. Aspek-aspek teladan mental guru berdampak besar terhadap iklim siswa dan pemikiran pelajar yang diciptakan guru. Guru harus memahami bahwa perasaan dan sikap siswa akan terlibat dan berpengaruh pada proses belajarnya” (DePorter,2002).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

 

 

Ahmadi, H.Abu.2007.Sosiologi Pendidikan.Jakarta : PT.Rineke Cipta.

Ahmadi , Abu. 2004.sosiologi pendidikan.jakarta: PT. Rineke Cipta

Gunawan, Ary H.2010.Sosiologi Pendidikan “suatu analisis sosiologi tentang pelbagai

          problem pendidikan.Jakarta : PT.Rineke Cipta.

Mahmud (2012),sosiologi pendidikan. Bandung.CV pustaka setia.

Razali, Ahmad dan Intan Pariwara.2010.Sosiologi.Klaten:PT.Intan Pariwara.

Vembrianto St.1993. sosiologi pendidikan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana

Pdf.10/04/2013 20:24

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s